Tampilkan posting dengan label Kisah_Ruqyah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Kisah_Ruqyah. Tampilkan semua posting

Rabu, 13 April 2016

Kisah Nyata Terkena Ilmu Santet Penghalang Jodoh

Kisah Nyata Terkena Ilmu Santet Penghalang Jodoh - Menembus gerbang pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja hambatan dan halangan yang harus dilewati. Seperti penuturan Hera, setidaknya tujuh pemuda yang dikenalkan orangtuanya, semuanya, mundur karena satu alasan. Jin turut campur dan tidak menginginkan perkenalan berlanjut kejenjang pernikahan. Ia menuturkan kisahnya kepada Ghoib. Berikut petikannya.

Sebagai remaja yang baru menginjak dewasa, saya mulai terlibat dengan kegiatan di luar sekolah. Kebetulan saya dikaruniai suara yang cukup bagus, sehingga dengan mudah bergabung di sebuah grup musik (qasidah). Saya resmi menjadi penyanyi dan ikut dalam kegiatan kelompok ke sana kemari. Meski saat itu saya baru kelas dua SMP.

Dari sinilah cinta bersemi. Wiling Trisno jalaran saka kulino (Cinta tumbuh dan bersemi karena seringnya pertemuan). Dan itulah yang terjadi. Hanafi, anggota senior dalam kelompok kami menarik perhatian saya. Dengan penampilannya yang simpatik serta sikapnya yang dewasa, ia menjadi idola gadis remaja. Terlebih Hanafi termasuk anggota yang serba bisa. Bisa menyanyi dan memainkan alat musik. Tidak sedikit gadis yang mengidolakannya. Sehingga ketika berita keakraban saya dengan Hanafi perlahan tersebar, ada di antara mereka yang merasa tersaingi. Sebut saja Vivi, gadis kuning langsat dan tinggi semampai itu sempat melabrak saya.

Pernyataan Vivi mulai menggoncang kepercayaan saya kepada Hanafi. Namun untuk membenarkan semua pengakuan Vivi begitu saja, juga bukan jalan terbaik. Saya klarifikasikan hal itu kepada Hanafi. "Kenapa kamu bohong sama saya? Siapa Vivi itu?" Saya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. "Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Vivi. Kalau perlu saya gamparin dia," kata Hanafi dengan nada tinggi.

Dengan ditemani seorang temannya, kami bertiga melabrak Vivi di rumahnya. "Vivi, katakan yang sebenarnya, kalau saya tidak pernah ngapa-ngapain kamu! Katakan kalau apa yang kamu sampaikan itu bohong semuanya!" Vivi yang tidak menduga kami datangi bertiga, akhirnya tidak bisa berkutik. Dia mengakui semua kesalahannya dan meminta maaf.

Hubungan saya dengan Hanafi pun terus berlanjut tanpa diketahui orangtua. Saya masih berusaha sebisa mungkin merahasiakan hubungan ini dari mereka. Karena memang usia saya yang terbilang masih ingusan. Saya baru kelas dua SMP, sementara Hanafi sudah berumur 22 tahun.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Itulah yang terjadi. Ketika, sedang asik menonton acara peringatan tujuh belas agustus, bapak memergoki saya sedang berduaan dengan Hanafi. Bapak yang selama ini telah mendengar kabar tidak sedap tentang hubungan kami menjadi naik pitam. Kemarahannya sudah tidak lagi terkendalikan. Sehingga dalam kerumunan orang banyak, bapak menghampiri saya dan memukul saya. Sementara itu Hanafi juga tidak luput dari kemarahan bapak. "Lupakan saja Hera! Kamu bisa dapat yang lebih dari Hera. Dia masih SMP, saya tidak ingin sekolahnya terganggu," kata bapak kepada Hanafi dengan disaksikan banyak orang.

Kisah Nyata Terkena Ilmu Santet Penghalang Jodoh, Alhamdulillah sembuh dengan ruqyah secara syar'iyyah.

Sosok Kuntilanak Menemani Saya Jalan-Jalan

Sejak itu, hubungan saya dengan Hanafi tidak lagi seperti dulu. Saya semakin jarang bertemu. Hari-hari indah masa remaja berubah dengan kegetiran. Terus terang, hati saya masih belum bisa melupakan Hanafi begitu saja. Sehingga secara perlahan hal itu mempengaruhi kejiwaan saya.

Saya berubah menjadi gadis yang murung dan suka menyendiri. Keceriaan yang biasa mengisi keseharian saya perlahan hilang. Kata ibu, saya sering seperti orang yang melamun dan tidak nyambung bila diajak bicara. Pada sisi lain, kesehatan fisik saya juga mulai terganggu. Kepala dan dada saya sering sakit. Terus menggerogoti fisik saya, sehingga bila sakitnya kambuh saya tidak lagi berjalan dengan tegak. Untuk mengambil barang dari luar kamar, saya harus merangkak, karena rasa nyeri di uluhati yang tidak tertahankan. Sudah sekian kali orangtua membawa saya berobat ke rumah sakit, tapi semua itu tidak banyak membantu. Sakit saya tidak kunjung sembuh. Bisa dipastikan setiap bulan saya selalu muntah tanpa sebab yang jelas.

Setahun setelah peristiwa agustus itu, Hanafi menikah dengan gadis pilihannya. Kenyataan yang tidak dapat saya terima begitu saja. Pertama kali saya mendengarnya dari seorang teman sekelas, saya langsung berteriak histeris. Saya katakan kepada seorang teman bahwa selama ini saya tidak bisa melupakan Hanafi. Saya selalu ingat terus. Cinta saya sudah dibawanya habis. Saya sendiri heran, mengapa saya sedemikian jauh dikuasai perasaan itu hingga sedemikian rupa. Toh masih banyak pemuda yang lebih baik dari dia. Tapi mata hati saya sudah terbutakan.

Dari sini, saya berubah menjadi seorang gadis yang suka bersolek. Mematut diri di depan cermin hingga berjam-jam. Memoles wajah dengan bedak yang tebal dan setelah itu tidur. Saya tidak lagi peduli, apakah riasan itu akan dilihat orang atau tidak. Bagi saya saat itu yang terbayang dalam pikiran adalah saya ingin bersolek begitu saja.

Saya seakan menemukan telaga saat menerima undangan untuk tampil menyanyi. Meski dalam kondisi yang masih labil, saya memaksakan diri untuk tampil. Dan tentu saja bersolek dengan make-up yang tebal dengan wama lipstik yang tidak seperti biasanya. Saya lebih suka memakai shadow warna biru dongker. Sebuah perpaduan warna antara bedak, lipstik dan shadow yang terasa menakutkan bagi sebagian orang. Tapi saya tidak peduli. Saya asyik saja bernyanyi dan berjoged dengan goyangan yang mencengangkan. Ibu yang selalu mengikuti saya ketika tampil menyanyi sampai sedih dan tidak mengira saya bisa berubah sedemikian rupa.

Saat tampil menyanyi, saya kelihatan ceria dan lincah. Tapi begitu sampai di rumah, keceriaan itu hilang. Saya kembali menjalani hari-hari dengan kemurungan dan kesendirian. Ajakan orangtua dan saudara untuk bergabung bersama mereka di lantai bawah tetap tidak saya hiraukan. Saya asyik saja dengan dunia saya. Dalam kondisi yang demikian itu, saya sering merasa didatangi oleh sosok makhluk berambut panjang dan bergaun putih. Setiap jam satu atau dua malam, sosok perempuan dengan wajah mengerikan itu mengajak saya untuk turun. "Hera, Hera ..." panggil sosok itu sambil melambaikan tangan. Dia berusaha membangunkan saya. Saya terima lambaian tangannya dan tanpa sadar, saya menuruni tangga. Rasanya saya seperti diajak jalan-jalan. Ke lantai bawah, atau ke lapangan di depan rumah. Saya seperti sedang ngobrol berdua saja. Saat itu, saya mencium bau harum memancar dari sosok perempuan yang mengajak saya. Tapi lama kelamaan dari mulutnya tercium bau busuk. Bau busuk yang menyadarkan saya hingga saya menjerit, "Ibuuu ... ibuuu ....". Yang saya rasakan kemudian, seperti ada yang memeluk saya sebelum akhirnya saya tidak sadarkan diri. Peristiwa seperti ini sering terulang.

Dua tahun sudah semua itu terjadi, tapi perubahan tak kunjung muncul. Dalam keadaan demikian, tetangga menyarankan bapak mengundang orang pintar yang katanya ustadz, namanya Zuhron. Bapak menuruti saran itu dan Zuhron dipanggil ke rumah.

Dengan disaksikan kerabat saya, Zuhron membaca al-Fatihah dan komat-kamit. Tak lama kemudian, salah seorang temannya kerasukan jin. Katanya, jin dari dalam diri saya dimasukkan ke dalam diri temannya agar bisa diajak dialog. Wajah pemuda yang telah kerasukan jin itu menegang. Matanya melotot dan urat-uratnya mengejang.

"Nih, dia jahat," katanya sambil menunjuk-nunjuk bapak. Bapak terkejut. la tidak menduga akan menjadi kambing hitam. "Sampai kapan pun anaknya harus kawin dengan cucu saya," laki-laki yang kerasukan jin itu tetap saja melotot. Dia mengaku selama ini berdiam diri diri di tengkuk saya. "Saya ada di tengkuknya. Biar dia sakit terus. Terus saya suka ngaling-ngalingin mukanya, agar tidak ada yang suka sama dia."
baca juga:

Ciri Tanda Wanita di Nikahi Jin Sihir Tabwir (Susah Nikah)


"Memang kenapa?" tanya Zuhron. "Cucu saya disakiti sama syetan ini," katanya sambil tangannya menunjuk-nunjuk bapak. Ketakutan bapak semakin kuat, ketika laki-laki yang menjadi media jin mengamuk. Setelah kerasukan beberapa saat, laki-laki itu pun disadarkan kembali. Saya sendiri kemudian disuruh berobat ke tempat Zuhron secara rutin. Katanya, akar masalah sudah ditemukan, karena selama ini keluarga bapak tidak bermusuhan dengan siapapun. Satu-satunya masalah yang ada hanya dengan Hanafi, dan itu sudah berlangsung dua tahun yang lalu.
baca juga:

Ciri Ciri Dukun Yang Mengaku Peruqyah Syar'iyyah


Tujuh pemuda mengundurkan diri saat hendak melamar

Satu tahun lamanya, saya berobat ke Zuhron, namun tidak ada perubahan yang berarti. Saya tetap dalam kebengongan tak ubahnya orang 'bloon'. Akhirnya bapak membawa saya ke orang pintar lainnya. Ki Prana dari Cirebon, Ki Darjo dan beberapa orang pintar lainnya. Semuanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang menghalangi saya sehingga tidak ada pemuda yang suka dengan saya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa sampai lima puluh tahun pun saya tidak akan bisa menikah.

Mendengar terawangan mereka yang mengarah pada satu titik itu, orangtua menjadi gelisah. Sementara saya adalah anak yang pertama. Bila kemudian saya terlambat menikah, maka adik-adik saya akan menanggung akibamya. Akhirnya ketika saya berusia 18 tahun, orang tua sudah mulai mengizinkan saya untuk dikenalkan dengan pemuda yang ingin menikah dengan saya.

Sejak itu ada beberapa pemuda yang mencoba dikenalkan. Paman saya memperkenalkan saya dengan temannya. Sebut saja namanya, Redi, tinggal di Jakarta Utara. Redi, sudah berjanji untuk main ke rumah. Alamat saya di Bekasi juga sudah dikantonginya. Namun, pada hari dan jam yang telah dijanjikan, Redi tidak kunjung tiba. Saya tunggu dan terus menunggu, tapi tetap tidak muncul. Selang beberapa jam kemudian terdengar dering telpon. Rupanya Redi yang berbicara dari balik telpon. Katanya, dia tersesat dan tidak menemukan jalan ke rumah saya. Padahal alamat saya mudah ditemukan karena terletak di pinggir jalan.

Redi menyerah. Ada lagi pemuda yang diperkenalkan. Kali ini namanya, Sapto, teman adiknya ibu yang masih kuliah di sebuah PT ternama. Sapto memang tidak tersesat dan dia sempat main beberapa kali ke rumah. Namun aneh, setiap kali bertemu dengan saya, katanya dia selalu sakit-sakitan. Katanya, kepalanya seperti ada yang memukulinya dengan keras. Sampai akhirnya melihat saya saja sudah ketakutan. Keringat dingin sebesar jagung membasahi keningnya. Dan Sapto pun kembali menyerah. Dia tidak lagi nongol ke rumah.

Meski sudah dua pemuda yang mengurungkan niatnya, tapi ibu tetap optimis. Dia berusaha untuk menutupi kekecewaannya, "Sabar Hera, hilang satu tumbuh seribu." Saya tahu ibu mengkhawatirkan keadaan saya, semua ucapannya itu hanya untuk menguatkan jiwa saya agar tidak semakin terpuruk.

Sebenarnya, ketika menerima telpon saya sering tertawa cekikikan 'hi hi hi hi' tanpa saya sadari. Ibu yang selalu memperhatikan ketidakwajaran dalam diri saya itu pun mengingatkannya. Tapi tak lama kemudian saya cekikikan lagi. Mungkin hal ini jugalah yang membuat empat pemuda yang dikenalkan dengan saya di kemudian hari, akhirnya menyerah. Enam orang sudah gagal. Di tengah kebingungan itu, bapak membaca Majalah Ghoib yang menulis kesaksian seorang janda yang tujuh kali dilamar tujuh kali gagal. Setelah membaca majalah itu, ibu menyuruh bapak untuk segera mencari alamat Majalah Ghoib. Karena kisahnya sama dengan kisah saya. Bapak mencari ke alamat di jalan Kebon Manggis, tapi katanya sudah pindah. Sementara orang yang ditanya bapak tidak tahu kemana pindahnya. Tinggallah orangtua memendam rasa penasaran dimana kiranya Majalah Ghoib berkantor.
baca juga:

7 kali gagal menikah karena sihir


Sewaktu sakit pinggang dan pijat ke Pak Diman, bapak membawa serta foto saya dan minta diterawang. "Oh, ada yang nutup mukanya. Lima puluh tahun tidak bakalan kawin,' kata Pak Diman. Akhirnya saya disuruh ke sana. Di bawah betis saya, katanya dikeluarkan benda-benda seperti beling. Saya juga dikasih jimat macam-macam, tapi tidak pernah saya pakai. Karena saya sudah tidak lagi percaya dengan jimat-jimat itu. Sudah banyak orang pintar yang mengobati saya, tapi semuanya tidak banyak membawa perubahan.

Setelah itu, orangtua saya berpindah meminta doa kepada seorang habib. "Anak ini memang kurang cesan. la harus segera dinikahkan. Karena dia gampang dikerjain orang," kata habib.

Mendengar penuturan habib seperti itu, orangtua kembali semangat mengenalkan saya dengan pemuda lain, namanya Fikri. la anak seorang kyai. Janji pertemuan telah ditentukan, tapi ketika saya mulai mendekat ke Fikri, saya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sampai saya bentur-benturkan kepala ke tembok. Aneh, memang. Tidak biasanya saya bertingkah laku seperti itu.

Ibu kembali mendorong bapak untuk mencari alamat Majalah Ghoib. Beruntung ketika bapak shalat di Masjid Istiqlal, bapak menemukan Majalah Ghoib. Bapak segera mendaftarkan saya. Ketika giliran terapi, seperti ada saja yang menghalangi saya. Terlambat bangun atau kemalasan yang tiada terkira. Sehingga dua kali saya gagal terapi, karena terlambat datang. Pas, kesempatan yang ketiga, ibu memaksa saya untuk berangkat pagi.

Saat diterapi, sampai pada ayat-ayat sihir, saya berteriak. Saya berontak, hingga Ustadz Aris Fathoni kewalahan. Kelima ustadz yang lain segera menangani saya, meninggalkan pasien masing-masing. Heboh sekali, katanya ibu sampai menangis melihat reaksi saya yang tidak seperti pasien lainnya.

"Hi hi hi hi" saya tertawa seperti dulu. Tertawa ngikik yang tidak akan berhenti sebelum dipukul dengan sapu. Kata ibu, saat diterapi itu, saya berubah menjadi wanita yang genit, seperti gaya bintang film. Karena kondisi saya yang sudah lemas, akhirnya hari itu dihentikan. Jin yang cekikikan itu masih belum mau keluar.

Alhasil, dia kembali berulah saat saya bersama teman-teman berlibur ke puncak. Di tengah perjalanan ke air terjun, tiba-tiba saja saya kembali cekikikan saat melihat ke sebuah pohon besar. Terang saja, teman-teman pada ketakutan. Untunglah salah seorang teman saya segera mengingatkan saya untuk segera beristighfar.

Satu minggu berikutnya, saya ruqyah kedua, reaksi saya masih keras seperti ruqyah sebelumnya. Jin tidak mau mengaku siapa yang mengirimnya. Jin itu hanya menunjuk-nunjuk ustadz yang menterapi sambil mengatakan syetan. Dan selanjutnya, saya ngoceh macam-macam: tidak mau pakai jimat yang dari dukun, tidak mau mandi kembang bahkan ketika shalat, katanya saya juga tidak membaca doa. Saya juga menceritakan bahwa sudah sekian banyak pemuda yang mendekati saya pada mundur, sementara orang pintar mengatakan bahwa ada yang menghalangi saya untuk menikah.

"Masalah jodoh itu di tangan Allah. Bila Allah berkehendak, tidak lama Hera juga nikah. Tidak perlu menghiraukan ocehan orang pintar. Bikin kita stress saja" ujar Ustadz Aris. Ustadz-ustadz yang lain juga menimpali, "Besok juga kawin." Kalimat yang memberikan ketenangan seperti itu, saya anggap sebagai bagian dari doa. Semoga Allah mengabulkan permohonan kami.

Setelah ruqyah kedua ini, saya tidak lagi bermimpi yang aneh-aneh. Sakit kepala yang sudah menahun itu pun sembuh. Semua keluarga di rumah terheran-heran dengan perubahan yang begitu cepat. Keceriaan kembali hadir dalam diri saya. Meski demikian, secara berkala saya mengikuti terapi ruqyah hingga enam kali. Dipandu dengan terapi mandiri di rumah melalui kaset, serta menjalankan shalat dengan baik.
baca juga:

Download MP3 Ruqyah dan Cara Ruqyah Mandiri


Calon Suami pun Tak Luput Dari Gangguannya

Bersamaan dengan proses terapi ruqyah itu, di bulan Agustus ada seorang pemuda yang mengantarkan undangan pengajian ke rumah. Namanya Syahril. Pemuda yang satu ini berbeda dengan tujuh pemuda yang sempat dikenalkan kepada saya. Dia tidak merasakan ada kejanggalan dalam diri saya. Saya pun demikian, tidak merasa sakit seperti saat bertemu dengan Fikri.

Sejak pertemuan bulan Agustus itu, Syahril tidak lagi main ke rumah. Paling sesekali kami berpapasan di jalan. Namun di bulan Januari dia membuat kejutan melalui telpon. "Her, mau nggak saya kenalkan dengan orangtua?" katanya dari balik telpon. "Ah kenalan. Siapa takut," jawab saya. Waktu itu ibu sedang berangkat haji. Nah, sepulang dari ibadah haji, gantian keluarga Syahril yang main ke rumah. Dari pertemuan yang singkat tersebut, mengalir keinginan untuk menjodohkan kami berdua.

Tak lama kemudian, orangtua Syahril menelpon kembali. Katanya, kalau mereka sudah melamar, maka seminggu atau dua minggu kemudian segera dilangsungkan pernikahan. Ketika hal itu disampaikan ibu, saya sempat terkejut, "Kawin, sebelumnya susah banget. Kok sekarang tiba-tiba mau nikah," gumam saya. Saya pun meminta waktu tiga bulan.

Hari-hari saya berlalu biasa saja. Rasa sakit di kepala, punggung maupun uluhati sudah tidak lagi terasa. Saya jalani keseharian saya dengan penuh keceriaan. Terlebih harapan untuk segera menikah tinggal menunggu hari. Persiapan-persiapan kecil sudah mulai terasa.

Namun, hal berbeda menimpa Syahril. Sebenarnya setelah proses lamaran disepakati, Syahril mengalami kejadian yang tidak jauh berbeda dengan saya dulu. Sesekali muncul kebencian dalam dirinya. Orang sering menyebutnya dengan istilah 'gedhek'. Namun, semua gangguan itu tidak menghentikan proses pernikahan yang sudah disepakati.

Suatu hari Syahril menyampaikan masalah kepada saya melalui telepon. "Katanya kalau mau jadi pengantin, pasti salah satu ada yang gedhek" kata Syahril dari balik telepon. "Kok Hera nggak, kamu kali yang gedhek" jawab saya. "Maklum deh. Itu sih kata yang sudah-sudah," ujar Syahril. "Sudahlah, jangan diturutin. Itukan syetan. Lawan, apa yang mengganggu pikiran kamu biar kita tidak jadi ...," jawab saya.

Saya berusaha menenangkan perasaan Syahril, agar tidak banyak terpengaruh dengan gangguan yang dialaminya. Karena bagi saya semua gangguan itu bukan hal yang asing. Sudah sekian lama saya mengalaminya bahkan yang lebih berat dari itupun sudah saya alami.

Beberapa hari menjelang pernikahan, Syahril bahkan rada bingung. la seakan belum sadar bila akan menikah. Kebingungan itu terus berlanjut hingga saat resepsi pernikahan berlangsung. Pernikahan saya diselenggarakan pada hari Jum'at. Menurut cerita yang saya dengar kemudian, pada Jum'at pagi itu Syahril masih saja bingung dan tidak menyadari bahwa hari itu adalah hari pernikahannya. Waktu itu Syahril masih saja main ke pasar sehingga ditegur ibunya. "Syahril, kamu itu nanti nikah." "Nikah?" katanya rada bingung.

Hal yang sama masih terjadi ketika Syahril harus mengenakan pakaian pengantin. Dia memang menurut saja, ketika didandani. Dari sorot matanya masih tersirat kebingungannya. Untunglah kesadarannya pulih kembali sesaat menjelang ijab qabul. "Kok sekarang sudah nikah, perasaan kemarin masih jadi pacar," tanyanya rada bingung.
baca juga:

minder menyendiri pikiran kacau itu tanda sihir pengacau pikiran


Alhamdulillah ijab qabul terlaksana dengan baik. Kami telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan yang membahagiakan saya, Abang Syahril kembali menemukan jati dirinya. la tidak lagi kebingungan seperti sebelumnya. Kami menyalami tamu dan undangan dengan riang. Ocehan 'orang pintar' yang mengatakan saya tidak akan menikah sampai lima puluh tahun ternyata tidaklah demikian. Allah telah mengabulkan permohonan dan usaha kami.

Sehari setelah resepsi, saya perhatikan Abang Syahril sepertinya kelelahan. Badannya panas dingin. Saya membiarkannya istirahat dengan tenang. Setelah maghrib, Abang muntah-muntah. Sedemikian parahnya, hingga ia sampai terjatuh. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, keadaannya semakin parah. Kalau lagi kepanasan tempat tidurnya sampai bergoyang-goyang.

Belajar dari pengalaman masa lalu, akhirnya saya mengusulkan untuk menjauh dari Bekasi. "Bang kalau memang begitu keadaannya, mendingan kita harus ngumpet dulu. Katanya kalau jauh, Kayaknya tidak kena." "Kemana?" tanya Abang. "Abang kan punya kakak di Bogor."

Sesekali, Abang memang masih bingung, satu hal yang mengantarkannya ruqyah ke Majalah Ghoib seperti yang saya lakukan dulu. Setelah terapi yang pertama, alhamdulillah gangguan yang dialaminya tidak separah dulu. Terlebih Abang tergolong orang yang rajin membaca al-Qur'an. Sehabis shalat Maghrib dan Isya' selalu dimanfaatkannya untuk membaca al-Qur'an. Kebiasaan yang terus berlangsung hingga kini.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Ketempelan Jin Membuatku Sakit Kepala Berkepanjangan

Ketempelan Jin Membuatku Sakit Kepala Berkepanjangan - Jin bisa dilihat dan dipegang layaknya manusia ketika mereka keluar dari hakekat penciptaanya, lalu menyerupai sosok manusia. Bisa diajak bicara, disuruh memijat atau dibonceng kemana saja. Seperti pengalaman Sri Handayani, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia menuturkan kisah pergaulannya dengan ‘Jin Cathy’ kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

“Brak…” dua sepeda motor beradu. Menimbulkan suara keras yang memecah keheningan di pagi buta. Seorang lelaki dengan sepeda motornya terpelanting. Nasi bungkus yang memenuhi jok motornya berceceran dan tak bisa diselamatkan. Pada sudut lain, Lek Triono yang membonceng saya juga terjerambab. Motornya terseret sepuluh meter dari tempat kejadian. Meninggalkan saya yang terduduk di atas aspal, persis di tempat kejadian. Aneh, saya tak mengalami luka, hanya sobekan kecil di celana. Itupun tidak sepadan dengan kerasnya tabrakan tadi.

Heran, saya benar-benar heran atas apa yang terjadi. Tabrakan keras itu tidak menimbulkan luka apa-apa. Hanya, kekuatan aneh yang mengangkat badan saya bersamaan dengan detik-detik tabrakan itu yang saya rasakan. Lalu meletakkan badan saya kembali dia atas aspal. Sementara Lek Triono yang membonceng saya pingsan seketika. Tangannya lunglai dengan darah mengalir dari wajahnya.

Saya cepat mengambil keputusan. Memanggul Lek Triono dan menuntun sepeda motor ke sekolah tempat saya belajar. Saya tidak berpikir membawanya ke rumah sakit karena yang terlintas dalam benak saya adalah takut mendapat hukuman bila terlambat datang. Maklum waktu itu adalah minggu-minggu awal mengikuti kegiatan wajib penerimaan siswa baru. Lagian, sekolah itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kejadian.
baca juga:

keserempet motor, lha kok setan dari kalangan jin ikut masuk



penyebab ketempelan Jin beserta ciri ciri gejala dan cara menyembuhkan dan mengobati ketempelan jin

Saya terlambat setengah jam dan nyaris dihukum merayap di jalan sepanjang enam meter. Akhirnya saya katakan, “Saya tabrakan. Sekarang Lek saya tidak sadarkan diri di depan.” Sanggahan ini membuat mereka terpana. Tabrakan keras yang terjadi tidak menimbulkan luka pada diri saya, sementara motor laki-laki saya patah rangka, tangki bensin juga goyang, meski tidak bocor.

Setelah tabrakan di pagi buta itu, saya sering sakit kepala tiba-tiba. Hanya karena keinginan saya tidak dikabulkan orangtua misalnya, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak bisa mendengar kata-kata jangan. Karena kata itu mengundang reaksi di kepala saya.

Selain itu, saya sering pingsan di sekolah hanya karena mendengar nama saya di panggil di pengeras suara. Panggilan yang biasanya diikuti dengan membuat nyali menciut, saya merasa tidak bersalah, namun mengapa harus menerima hukuman, bukankah itu kesalahan orang lain? Memang siswa yang bersalah masih satu kelas dengan saya, tapi tidak seharusnya bilan hukumannya harus diterima siswa yang tidak bersalah. Kekecewaan dan ketakutan itu membuat saya tidak sadarkan diri. Kejadian seperti ini sering kali berulang, hingga akhirnya para guru memahami dan tidak menghukum saya atas kesalahan orang lain.

Boleh dibilang kejiwaan saya memang labil dan sering tidak sadarkan diri. Sperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2001. Saya tidak sadarkan diri selama 12 hari. Saya dibawa ke rumah sakit. Katanya, badan saya sudah dingin sampai leher, tinggal kepala yang masih hangat. Infuse sudah tidak berfungsi, tidak ada cairan yang menetes dan masuk ke dalam urat nadi. Grafik jantung di layar monitor juga tidak bergerak. Akhirnya pihak rumah sakit menyerah dan saya menjalani perawatan di rumah. Dalam perkiraan mereka, tidak berapa lama lagi saya sudah meninggal.

Di rumah, kondisi saya tidak mengalami banyak kemajuan. Hari demi hari berlalu dalam keadaan yang sama. Badan saya tergolek lemah di atas pembaringan. Pihak keluarga juga sudah pasrah, menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Mbah yang tinggal di Yogya dan Medan juga sudah datang. Mereka menunggui saya dengan harap-harap cemas.

Dalam keadaan yang kritis itu, saya merasa didatangi seorang kakek yang mengaku sebagai Mbah saya yang sudah almarhum, “Kowe iku putuku. Ojo loro-loro. (Kamu itu cucu saya. Jangan sakit-sakitan terus). Pokoknya ntar kalau sakit mamanya sedih, bangun ayo bangun!” ujar kakek itu sambil mengusap dahi saya.
baca juga:

Sakaratul Maut yang panjang akibat menganut ilmu khodam


Mata saya terbuka. Dan saya melihat Mbah dan keluarga lainnya sudah berkumpul. Mereka menangis bahagia melihat keadaan saya yang membaik setelah tidak sadarkan diri dua belas hari. Ini bukan waktu yang pendek. Di bawah tempat tidur saya sudah bau kapur barus. Karena saya divonis dokter telah meninggal, tapi bapak masih belum yakin. Ia bersikukuh bahwa saya masih belum meninggal.

Sebenarnya, ketika tidak sadarkan diri itu saya dapat melihat apa yang dilakukan orang-orang yang menjenguk saya. Apapun yang mereka katakana, saya dengar. Hanya saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat tidak sadarkan diri, saya seakan bermain-main di ruangan yang seba ungu. Akhirnya setelah saya sehat, saya mengecat kamar dengan warna ungu. Saya masih ingin mengenang saat-saat tidak sadarkan diri. Saat ketika keluarga membaca surat Yasin, atau detik-detik ketika mereka menangis dan meratapi nasib saya yang tergolek antara hidup dan mati.

Ketika tersadar dari pingsan itu saya menemukan sebuah batu kecil persegi enam yang tranparan di bawah bantal. Tidak ada yang tahu darimana asal-usul batu itu. Batu itu saya jadikan cincin karena ketika disimpan di dompet terkadang hilang dan lain kesempatan datang lagi. Pendek kata batu itu selalu hadir ketika saya sedang gundah gulana, marah, sedih maupun kecewa.

Entah kenapa setelah memakai cincin, saya ingin jajan terus. Meski saya baru membeli bakso misalnya, dan tak lama kemudian ada penjual lain yang lewat di depan rumah, saya langsung ingin membelinya. Keinginan ini tidak bisa dicegah, karena bila dilarang akibatnya bisa fatal. Sesak nafas dan saat-saat berikutnya saya pingsan. Tabungan yang diberikan orang tua senilai enam juta habis dalam waktu tiga bulan.
baca juga:

efek batu akik dan jimat jika dianggap sebagai perlindungan


Berteman dengan ‘Jin Cathy’ dari Jerman

Tahun 2002, saya mengikuti Praktek Kerja Lapangan di kapal pemerintah yang berlayar ke laut China Selatan dengan nomor lambung 543. Pelayaran yang sangat berkesan bagi saya, karena ketinggian ombak laut China Selatan bisa dipastikan di atas dua puluh meter. Ini adalah kesempatan yang langka dan tidak sembarang orang bisa bergabung dengan kapal ini.

Ombak yang menggulung menjadi pemandangan harian, sesekali diselingi angin-angin kencang yang menderu-deru. Pagi itu, saya berdiri di dek lambung kiri, memperhatikan permukaan laut yang bergerak-gerak tanpa henti. Ombak itu saling berkejaran sebelum akhirnya buyar memercikkan biuh membentur lambung kapal.

Saya menegok ke kiri, mata saya tertumpu pada sosok wanita yang berdiri di geladak kapal. “Ohh, cantik sekali,” gumam saya lirih. Rambutnya memakai korses dengan hiasan bunga yang indah. Serasi dengan kulitnya yang kuning dan blues panjang berwarna merah. Ia cantik sekali. Paras wajahnya menandakan bahwa dia tidak berasal dari Indonesia.

Semakin saya perhatikan, saya semakin heran. Wanita itu tidak tersentuh air. Pecahan ombak yang muntah ke geladak kapal tidak membuatnya basah. Padahal anak buah kapal yang sat itu berada di geladak kapal yang sama berlarian tidak ada yang menghiraukannya. Seakan mereka memang tidak melihat wanita cantik itu.

Wanita itu memperhatikan saya yang berdiri mematung. Perlahan, ia melangkah dengan anggun. Gaunnya berkibar di terpa angin kencang. Ia melangkah tepat mengarah ke tempat saya berdiri. Jantunfg saya berdegup semakin kencang. Wanita itu terus mendekat dan … … saya sudah berada di ruang perawatan begitu mata saya terbuka.

Kata perawat, saya ditemukan di geladak kapal dalam keadaan pingsan. Selama di ruang kesehatan wanita cantik yang misterius itu juga berada di dalam. Dia duduk di ranjang sebelah, tetap dengan balutan blues panjang warna merah. Ia duduk saja dan tidak mengusik perawat yang sesekali ke dalam ruangan. Nampaknya mereka tidak ada yang melihat wanita bule ini. Mereka hanya berbicara dengan saya dan tidak melihat atau ngobrol dengan wanita bule itu.

Selang beberapa lama kemudian, wanita cantik itu memecah kebuntuan. Ia memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. “My name is Cathy. I am from Germany (nama saya Cathy. Saya berasal dari Jerman),” tuturnya lembut sambil melangkah ke ranjang saya.

Wanita yang memperkenalkan diri dari Jerman itu pun duduk di samping saya. Dan tanpa diminta, ia segera memijat badan saya. Saya diam saja, menerima pijatannya, hingga kemudian saya menjawab perkenalannya juga dengan bahasa Inggris yang entah bagaimana tiba-tiba saja saya lancar berbahasa Inggris.

Singkat cerita jin Cathy ikut saya. Dia masuk ke tubuh saya. Dia menempel di punggung, katanya. Memang, saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika jin Cathy berada di tubuh saya. Rasanya badan saya lebih ringan, begitu juga ketika dia keluar. Saya mengetahuinya dengan perubahan gerak saya yang sedikit melambat. Kedua telapak tangan dan kaki saya menjadi basah. Bila saya juntaikan telapak tangan saya, lama kelamaan jatuh tetesan air dari telapak tangan.

Selepas PKL, jin Cathy tetap menemani saya dan tinggal di kamar saya. Ia tidur di ranjang atas, bekas tumpukan kardus. Sementara saya tidur di bagian bawah. Kardus-kardusnya saya singkirkan semua. Sehingga tempatnya menjadi lega. Memang saya sadar sejak awal, bahwa Cathy bukanlah manusia. Ia adalah jin tapi dalam benak saya saat itu Cathy merupakan jin yang baik. Ketika dipijat Cathy, saya merasakan tangannya seperti ketika saya dipijit orang lain. Tidak banyak perbedaan yang saya temukan. Kecuali, ia tidak bisa dilihat orang lain.

Padahal sekian bulan saya menghabiskan waktu bersama Cathy. Dia selalu ikut kemana saya pergi. Ketika saya naik motor, maka Cathy membonceng di belakang, lain waktu ia mengiringi saya berjalan kaki. Ia menjadi teman layaknya manusia biasa. Bisa diajak bercanda atau bicara serius.

Memang, sesekali kehadiran Cathy menarik perhatian orangtua. Karena mereka merasakan kehadiran orang lain di rumah ini. Hingga ibu pun menegur, “Suka ada yang masuk ke kamarmu. Siapa dia?” Tanya ibu suatu siang. “Nggak apa-apa. Dia teman saya kok. Sekarang sudah pulang,” jawab saya dengan santai.

Saat bergaul dengan Cathy sakit kepala masih belum sembuh, meski saya sudah berobat secara medis. Akhirnya saya menerima tawaran Pak Rodi, orang pintar, yang katanya bisa mengobati. “Mau sembuh nggak?” Tanya Pak Rodi. Ia kemudian shalat dua rakaat yang katanya bagian dari proses pengobatan. Lalu memberi sebungkus garam. “Garam ini harus dijilat sebelum keluar dari pintu kamar,” tuturnya meyakinkan.

Obat yang terkesan mudah itu pun saya terapkan. Garam yang asin itu menjadi pemanis bibir saya. Bayangkan, dalam sehari berapa puluh kali saya harus menjilat lidah, lidah saya akhirnya meradang. Bukan kesembuan yang saya dapat, tapi justru tambahan penyakit baru. Akhirnya ritual menjilat lidah saya hentikan. Sebagai gantinya, saya diminta untuk membeli empat butir telur ayam Cemani seharga 240.000 rupiah dan harus ditanam di rumah.

Uang sejumlah itu tidaklah sedikit, sementara saya sendiri belum bekerja. Konsekuensinya saya harus berbohong kepada orangtua dan meminta tambahan uang. “Untuk beli pusa,” jawab saya, ketika ditanya ibu.

Meski telur ayam Cemani sudah saya tanam di rumah tanpa sepengetahuan orangtua, tapi hasilnya masih tidak kelihatan. Lama kelamaan, permintaan Pak Rodi makin meningkat. Kini ia menyuruh saya mandi dengan minyak wangi yang harus dibeli dari pak Rodi sendiri senilai 600.000 rupiah. Saran yang terkesan aneh itu saya turuti. Karena saya sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepada dan sesak nafas yang selama ini mendera.

Lepas dari Pak Rodi, saya kembali terjerat kepada ulah orang-orang yang hanya mau untung sendiri. Ibu Diah yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib menerawang saya. “Mbak Sri memiliki tanda yang merugikan. Tanda itu harus dibuang melalui jengger ayam yang berbentuk kecil,” ujar Ibu Diah.

Keesokan harinya, saya membeli ayam jago yang berjengger kecil. Ayam itu kemudian dipotong dan saya disuruh menghabiskannya. Memang selama saya rajin bermain ke rumah Ibu Diah, sakit kepala saya cenderung berkurang. Tapi lama kelamaan saya dimanfaatkan Ibu Diah, saya diminta untuk membayar beberapa barang yang dia beli. Ia sama saja dengan Pak Rodi yang hanya memanfaatkan sakit saya.
baca juga:

Ciri Ciri Dukun Yang Mengaku Peruqyah Syar'iyyah


Jin Chaty Menjauh dari Stand Majalah Ghoib

Atas saran kakak, saya konsultasi ke perwakilan Majalah Ghoib yang saat itu mengikuti pameran di Islamic Book Fair dengan ditemani Mbak Tias, teman dekat saya dan tentu saja jin Cathy yang masih terus mengikuti saya. Sebenarnya jin Cathy mencoba menghalangi saya konsultasi di stand Majalah Ghoib. Ia menarik-narik rambut saya. Tapi saya bersikukuh untuk konsultasi. Akhirnya jin Cathy menunggu saya dan Mbak Tias di perempatan yang berjarak dua puluhan meter dari stand Majalah Ghoib. Jin Cathy tidak berani masuk bersama saya.

Setelah konsultasi bebarapa saat Ustadz Ilham yang saat itu bertugas di stand MajalahGhoib memijat jari saya. Pijatan yang membuat saya menangis sebelum pingsan. Heboh, kata Mbak Tias, saya menjadi tontonan orang-orang yang saat itu berada tidak jauh dari stand Majalah Ghoib. Saya menjadi contoh langsung bagaimana sebenarnya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.

Senin berikutnya, saat hendak berangkat untuk terapi di kantor Majalah Ghoib, saya mengantuk luar biasa. Akhirnya mama menarik selimut dan guling saya. Tanpa ampun saya terbangun. Dalam keadaan setengah mengantuk, Cathy kembali mempengaruhi saya, “Tidur saja, masih capek kan? Kemarin baru dari pameran, masak sekarang pergi lagi,” bujuk Cathy. Saya bersyukur bila bujukan yang menghanyutkan itu tidak saya turuti. Karena dari sinilah berawal kesembuhan saya secara bertahap.

Saat terapi yang pertama, tidak terjadi dialog. Saya hanya merasa sakit ketika ustadz memijat jari kaki saya. Saya meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepulang dari terapi ruqyah pertama, saya mulai tidak bisa melihat Cathy, sehingga ketika di berbicara saya hanya mendegar suaranya. “Cathy, lu ada dimana?” Tanya saya. “Saya ada disampingmu.” “Tapi saya tidak bisa lihat. Yang terlihat bantal dan guling saja,” kata saya.

“Kok nggak kelihatan? Tuh matanya kealingan. Kemarin matanya ditutup yah?” ujar Cathy sambil mengusapkan tangan ke mata saya. Tak lama kemudian, saya kembali bisa melihat Cathy.

Ketika saya merintih kesakitan karena pijatan ustadz yang masih terasa, jin Cathy langsung meledek, “Tuh, pada sakit kan?” “Emang begini yang namanya diurut, lu ikut biar tahu,” jawab saya balik.

Jin Cathy memang tidak mau ikut terapi ruqyah, dia memilih untuk tinggal di rumah. Waktu itu, saya masih belum tahu bahwa sesungguhnya jin kafir takut mendengar lantunan al-Qur’an.

Sebelum berangkat terapi yang kedua seminggu kemudian, jin Cathy kembali menghalangi saya. “Udah, jangan berangkat. Sekarang ada film bagus. Mendingan di rumah saja,” bujuk Cathy. Bujukan Cathy itu hampir saja meluluhkan niat saya untuk ruqyah, tapi berkat dorongan Mbak Tias akhirnya saya bisa mengalahkan rayuan Cathy.

Saat terapi kedua, seperti biasa saya meronta layaknya orang yang kepanasan. Beberapa saat kemudian, terjadi dialog, “Siapa kamu?” Tanya ustadz. “Saya bukan orang sini. Saya dari Jerman,” aku jin melalui mulut saya. Tidak seperti biasanya. Kali ini dari mulut saya terdengar jawaban.

Setiba dirumah, saya tidak lagi bisa melihat Cathy, saya mencoba mencarinya , namun hanya suaranya yang terdengar. Cathy mencoba mengusap mata saya kembali, tapi semuanya gagal. “Ya sudah kalau lu tidak percaya sama gue, gue mau pergi,” ancam Cathy kemudian. “Ya udah, pergi saja! Sudah ada Mbak Tias yang nganterin saya.” Akhirnya suara Cathy hanya sesekali terdengar.

Suara Chaty benar-benar hilang setelah mengikuti terapi ruqyah yang ketiga. Masih menyisakan sakit kepala yang sudah tidak lagi separah dulu. Saya tidak lagi mudah pingsan ketika menghadapi masalah baru. Bagi saya ini ada perubahan yang sangat bagus.
baca juga:

Apakah Manusia Jin dan Malaikat Mengetahui yang Ghaib


Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 45/3

Selasa, 12 April 2016

Efek Terkena Ilmu Pelet dan Pengasihan

Efek Terkena Ilmu Pelet dan Pengasihan - “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” (QS an-Nuur: 30-31).

Pacaran, di zaman sekarang dianggap sesuatu yang lumrah dan wajar saja. Seorang anak yang tumbuh remaja dan belum mempunyai pacar dianggap sebagai anak yang kurang bergaul dan tidak laku. Padahal keburukan yang tersembunyi di balik racun asmara tersebut lebih mengerikan daripada manisnya. Disamping balasan atas pelanggaran norma agama, kesengsaraan dan penderitaan akibat pacaran juga tidak terhitung banyaknya. Seperti yang dialami Meilawati, seorang perawat yang mengalami gangguan alergi kulit akibat putus pacaran di tengah jalan. Orang yang selama ini diharapkan menjadi pendamping hidupnya justru telah mengirimnya guna-guna. Meilawati menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Cibubur. Berikut kisahnya.

Saya tumbuh dewasa menjadi seorang gadis tomboy. Dengan gaya yang berbeda dengan anak gadis lainnya. Sedikit berangasan dan ceplas-ceplos. Lantaran penampilan saya yang demikian itu, saya menjadi sandaran bagi teman-teman saya yang lemah. Bila ada di antara mereka yang diganggu oleh anak laki-laki, mereka mengadu kepada saya. Saya tidak terima melihat teman saya diperlakukan semena-mena. Saya pun tidak tinggal diam. Saya labrak anak laki-laki yang kurang ajar itu. Tidaklah mengherankan bila tidak ada anak laki-laki pun yang berani mendekati saya.

Hingga suatu hari, saat saya masih duduk di bangku SMP kelas dua, Ana, teman akrab saya menantang saya. “Ti, ada cowok cakep di kelas tiga. Namanya Alex. Kamu bisa nggak dapatin dia?” Saya penasaran, seperti apa sih orang yang dipanggil Alex itu. “Mana sih anaknya?” “Tuh lagi main bola,” seloroh Ana.

“Lumayan juga tuh cowok,” gumam saya. Merasa mendapat tantangan dari Ana, rasa iseng saya muncul. “Jangan panggil Wati, kalau tidak bisa dapatkan dia.” “Ayo kita buktikan,” timpal Ana sambil cengar-cengir. Melalui Ana, saya mencoba memancing perhatian Alex dengan cara memberinya salam.


Efek Terkena Ilmu Pelet dan Pengasihan dan akhirnya bisa sembuh dengan ruqyah


Beberapa hari berikutnya saya mendapat kabar dari Ana bila salam saya sudah disampaikan, “Ti, salam kamu sudah saya sampaikan.” “Terus dia ngomong apa?” tanya saya penasaran. “Alaaa Wati, kayak cowok saja kok. Gue tidak suka sama dia,” tutur Ana menirukan jawaban Alex. Saya tidak terima karena ini adalah penghinaan. Akhirnya saya mencari Alex dan mendampratnya habis-habisan. “Loe jangan menghina gue ya. Jangan sok ganteng. Yang lebih dari loe tuh, gue bisa dapet.”

Jadilah pertemuan pertama itu meniadi ajang pertengkaran, hingga akhirnya berujung kepada suatu pertanyaan menggantung yang keluar begitu saja dari bibir saya. “Jadi kamu maunya apa” “Ya, aku mau sama kamu. Kamunya gimana?” tanya Alex.

Karena saya sudah taruhan dan tidak mau dilecehkan, akhirnya saya menyambut uluran tangan Alex. Kisah cinta gaya anak SMP Yang selama ini hanya menjadi tontonan saja bagi saya, sudah mulai saya rasakan. Satu hal yang terus berlanjut hingga saya lulus SMP sementara Alex tidak melanjutkan sekolah ke SMA.

Setamat SMP saya melanjutkan sekolah di Bandar Lampung. Jauh dari rumah orangtua dengan Alex yang tinggal di Lampung Selatan. Hari-hari saya jalani seperti biasa. Bertemu dengan teman-teman baru dan kegiatan yang sedikit berbeda ketika di SMP. Surat dari Alex, sesekali mampir ke tempat kos-kosan. Menghangatkan kembali kenangan masa lalu.

Benih cinta yang belum layu semakin mekar saat Alex menyempatkan diri untuk sesekali berkunjung ke Bandar Lampung. Kisah cinta yang tidak selalu berjalan mulus. Rasa cemburu sering menghantui diri Alex. la merasa bahwa ada beberapa teman SMA yang juga tertarik kepada saya, sementara ia sendiri tidak setiap saat mengetahui apa yang saya lakukan. Sehingga perubahan potongan rambut saja, Alex sudah blingsatan. la takut bila saya berpaling kepada lelaki lain.

Pertengkaran pun tidak bisa dihindari. “Terserah, kalau masih tidak percaya,” ujar saya emosional. Pertengkaran yang berujung pada ketidakmunculan Alex di Bandar Lampung hingga setahun. la sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Surat yang biasanya sebulan sekali datang juga tidak pernah lagi mampir.

Hingga suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan kabar bahwa ada surat untuk saya di kantor. Ketika saya mau mengambilnya, ternyata surat itu sudah tidak ada. Surat itu bahkan sudah ada dalam genggaman Andi, kakak kelas yang selama ini menunjukkan rasa simpatinya kepada saya. Saya langsung merebutnya dari belakang. Dari sini akhirnya Andi mengakui bahwa ia sudah lima kali mengambil surat saya.

Tanpa terasa waktu tiga tahun telah berlalu. Masa-masa SMA telah berakhir, dan berganti dengan dunia baru. Di sini, saya masih ingin meraih cita-cita yang lebih tinggi. Saya tidak ingin sekadar menjadi ibu rumah tangga tanpa membawa bekal yang cukup berarti untuk masa depan saya dan keluarga.

Saya diterima di Akper Padang angkatan 99. Satu hal yang harus disyukuri, karena sebelumnya gagal ketika mendaftar di Yogya. Waktu yang tidak terlalu lama di Yogya telah merubah perilaku saya. Dari anak tomboy bercelana jeans dan berkaos ketat berganti dengan kaos lengan panjang dan berjilbab. Perubahan drastis yang sempat menjadi gunjingan teman-teman SMA. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap tegar melangkah dengan perubahan yang terjadi.

Kuliah di Padang dan jilbab yang menghiasi kepala masih belum bisa menghentikan kisah cinta saya dengan Alex. Surat maupun obrolan singkat via telpon menjadi alternatif lain. Meski sebenarnya sebelum berangkat ke Padang, ibu telah berpesan agar saya tidak berpacaran. “Kamu mau kuliah atau mau pacaran. Kalau mau pacaran tidak boleh kuliah.”

Karena itu, saya tidak pernah mengajak Alex berkenalan dengan orangtua saya. Selama ini semuanya masih menjadi rahasia kami berdua, hingga pertemuan pun harus dilakukan di luar sepengetahuan keluarga. Kesempatan pulang ke Lampung yang hanya setahun sekali, praktis saya habiskan bersama keluarga. Tidak ada kesempatan untuk bertemu Alex. Di samping memang saya belum ingin hubungan ini diketahui orangtua.

Untuk itu, pada tahun kedua Alex mengalah. la yang datang ke Padang, meski pertemuan itu pun tidak terlalu lama. Di sela-sela jadwal kuliah saya. Terakhir, setelah saya selesai kuliah, Alex menjemput saya. Dia ingin membantu saya mengangkut barang-barang saya. Waktu itu, Alex menginap di rumah sepupu saya.

Awalnya saudara sepupu saya bertanya siapa dia. Saya ceritakan saja apa adanya, bahwa Alex hanya lulus SMP dan masih belum kerja. Dia hanya membantu orangtuanya berkebun di Lampung. “Pikir-pikirlah dulu, sebelum terlanjur,” hanya itulah komentar saudara sepupu saya.

Awal perubahan

Juni 2003, saya merantau ke Jakarta dan ikut menumpang di rumah paman di Tangerang. Untunglah saya tidak harus menganggur terlalu lama. Surat lamaran yang saya kirim ke berbagai instansi mendapat jawaban dari sebuah klinik di Tangerang. Dari sini, saya mulai bersentuhan dengan dunia kerja dan teman-teman yang berkarakter macam-macam.

Perbedaan pulau bukan halangan bagi hubungan saya dengan Alex. Alex di Lampung dan saya di Tangerang, tapi hubungan kami masih lancer-lancar saja. Surat serta telpon yang menjadi penyambung kesetiaan kami.

Sejujurnya, saya sendiri merasa aneh dengan perasaan cinta yang seakan berlebihan. Siang malam wajah Alex selalu terbayang, terlebih bila sedang tidak ada kerja. Kerinduan yang mencapai ubun-ubun hingga terkadang saya menangis. Tangisan yang berganti dengan canda ria begitu telpon berdering atau ada surat yang datang.

Bahkan perintah Alex yang menyuruh saya keluar dari klinik pun saya turuti begitu saja. Hanya karena ada seorang karyawan yang tertarik kepada saya. Sebut saja namanya Lesmana. Tapi entahlah bagaimana Alex bisa tahu bila ada yang suka sama saya. Padahal saya tidak bercerita apa-apa tentang Lesmana dan saya pun tidak jatuh cinta kepadanya. Dulu, sewaktu masih di Padang Alex memang sempat mengancam biln saya berpaling darinya, “Siapapun tidak akan bisa menikahi kamu. Mudah bagiku untuk membunuhmu. Dari jauh juga bisa. Misalnya kamu di Jakarta atau di Padang. Ah, gampang bunuh orang. Darimana saja juga bisa Foto kamu kan ada padaku. Adil kan. Aku nggak dapat. lbu kamu nggak dapat. Suami kamu juga nggak dapat. Kamu mati masuk neraka.”
baca juga:

Larangan Gambar di Islam dan Hubungannya dengan Sihir


Lepas dari klinik di Tangerang, saya diterima bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta di Jakara Timur. Dan hubungan kami kembali lancar seperti biasa. Hingga pada suatu hari di bulan Januari abang saya datang ke Jakarta- Abang menginap di rumah paman. Mungkin abang merasa saya sudah dewasa, sehingga ia bertanya kepada paman siapa sebenarnya pacar saya. Dan tanpa ditutup-tutupi paman bercerita siapa sebenarnya pacar saya.

Mendengar kabar bahwa saya sudah menjalin cinta dengan Alex bertahun-tahun, abang naik pitam. la merasa telah dibohongi oleh adik yang telah di besarkannya dengan keringat. Saya dianggap telah mencoreng arang diwajah, terlebih bila yang menjadi pacar saya adalah Alex, orang yang dalam pandangan abang kurang baik dan tidak layak menjadi suami saya.

Abang langsung menelpon Alex dan memintanya untuk menjauhi saya. Hal ini saya ketahui setelah Alex menelpon saya. “Ti, abangmu di Jakarta ya?. Dia nelpon saya agar menjauhimu.” Saya panik. Rahasia yang selama ini terbungkus rapi, akhirnya terbongkar juga.

Terus terang, saya takut bertemu abang. Tapi jam 9 malam, abang menelpon dan mengatakan bahwa ia langsung balik ke Lampung. “Ti, abang mau ke Lampung.” Melalui telepon, abang kembali mengingatkan saya untuk segera mengakhiri pacaran dengan Alex.

Bimbang, ragu, gundah bercampur aduk menjadi satu. Cukup lama saya terdiam kaku memilih langkah yang harus diambil. Terus terang, ini bukan keputusan mudah. Saya seperti memakan buah simalakama. Tapi salah satu harus dikalahkan. Setelah menimbang cukup lama akhirnya saya memutuskan untuk menuruti saran Abang. Dengan kata lain, saya harus segera mengakhiri petualangan cinta bersama Alex.

Saya menelpon temannya Alex dan menitip pesan agar Alex segera ke Jakarta. Setelah hilang rasa penat, barulah saya menceritakan semua yang terjadi. Saya mengajaknya mengakhiri pacaran. “Saya tidak bisa menentang Abang saya. Semenjak ibu meninggal, Abang yang membiayai kuliah saya. Dan saya juga berencana untuk kuliah lagi.”

Alex nampak tidak terima dan tidak mau putus di jalan. Saya sadar memang tidak mudah melupakan orang yang kita kenal selama ini. Untuk itu saya berusaha memutus hubungan dengan Alex secara perlahan. Keinginan Alex untuk datang pada hari ulang tahun saya di bulan April 2004, juga saya biarkan. Terlebih memang pada saat itu juga ada teman-teman yang datang. Kebetulan pada saat yang sama Yanto, teman kerja yang tertarik dengan saya juga hadir. Alex semakin cemburu. la benar-benar merasa kisah cintanya segera berakhir. Dan akhirnya pulang dengan membawa kepedihan.

Sakit kulit yang menyiksa membawa saya berhubungan dengan dukun

Bulan Mei 2004, tidak seperti biasanya saya merasakan ada keanehan pada kulit di sekujur tubuh saya. Bentol-bentol berwarna merah menghiasi kulit kuning langsat yang selama ini saya banggakan. Gatal. Dan semakin gatal bila digaruk. Awalnya saya kira ini adalah sakit biasa. Teman-teman juga menganggap saya alergi ikan laut.

Beberapa hari kemudian, perut saya sakit. Rasanya mual. Semakin lama semakin parah. Awalnya sehari ke kamar kecil cuma sekali, esoknya sehari tiga kali. Hari berikutnya empat kali. Rasa sakit di perut kian hari tambah parah.

Hari-hari berikutnya setiap hari saya harus disuntik oleh teman sesama perawat. Benjolan merah di sekujur badan sempat mengempis dan hilang. Dua jam kemudian benjolan merah yang gatal itu datang lagi. Begitu seterusnya sampai mulut saya jontor karenanya. Dokter yang sempat merawat saya hanya mengatakan bahwa saya alergi dingin. Dan untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya dokter merekomendasikan saya untuk check up di RSCM. Setelah check up di RSCM hasilnya juga tidak banyak berubah. Gatal-gatal di kulit tetap saya tidak mau hilang. Bahkan lebih parah hingga saya sampai berteriak-teriak.

Melihat berbagai kejanggalan itu, salah seorang teman menyarankan saya untuk berobat ke Chandra (nama samaran) seorang paranormal di Ciledug, Tangerang. Malam Jum’at di bulan Juli, saya nekat ke Ciledug dengan diantar seorang teman. Sebenarnya saya hanya ingin tahu, apakah penyakit saya ini medis atau tidak. Tapi semua itu justru menjadi awal keterikatan saya dengan paranormal. Dengan memegang telapak tangan saya, Chandra menerawang. “Benar Ti, kamu sudah lama kena guna-guna.” “Sudah lama kamu dijerat ajian putar giling,” lanjut Chandra. Saya langsung down dibilang begitu, meski tidak percaya sepenuhnya.

Untuk itu saya harus dimandikan dengan kembang. Memang, setelah mandi kembang. badan saya menjadi lemas. Bayangan tentang Alex mendadak hilang. Padahal biasanya saya selalu memikirkan tentang dia, sedetik pun hati saya seakan tidak bisa terlepas dari bayangannya.

Tiga hari kemudian saya kambuh lagi. Akhirnya saya datang lagi ke Ciledug. Begitu seterusnya setelah sembuh beberapa hari, lalu kambuh lagi. Lantaran tidak punya pilihan lain, saya menceritakan semuanya kepada paman yang tinggal di Tangerang. Dari cerita itu mereka membawa saya ke seorang paranormal perempuan di Tangerang. Sebut saja namanya Widuri.

Entah apa yang dibaca oleh Bu Widuri sehingga tiba-tiba saja suaranya berubah seperti suara nenek-nenek. “Oh... ini memang tidak benar.” Sejurus kemudian ia menaruh daun sirih di lengan saya. Dan ... terjadilah apa yang harus teriadi. Dari balik daun sirih keluar tujuh buah silet yang sudah karatan. Saya merasakan memang ada sesuatu yang mengalir di lengan saya. Pedih rasanya. Bibi yang menemani saya, hanya bisa menangis. la tidak tega melihat keponakannya diperlakukan sedemikian rupa Kemudian saya di bawah ke dalam kamar. Menurut Bu Widuri untuk menangkal guna-guna itu di dalam kulit saya harus ditanam emas.

Saya bilang saya tidak punya emas selain yang menempel di badan. Akhirnya saya korbankan dua buah anting-anting saya untuk ditanam. Meski saya ragu apakah memang anting-anting itu benar-benar dimasukkan ke dalam kulit saya. Pasalnya waktu itu tidak boleh ada yang melihat. Saya hanya berdua dengan Bu Widuri di dalam kamar. Selain itu saya masih harus menyerahkan uang 250 ribu untuk beli kambing yang katanya dipakai untuk penjagaan rumah saya. Saya tidak peduli apakah uang itu untuk beli kambing atau tidak.
baca juga:

Ruqyah yang tidak sesuai dengan syariat Islam


Terus terang saya seperti kerbau dicocok hidungnya. Apapun permintaan Bu Widuri selalu saya turuti. Bila memang membawa kesembuhan pada, diri saya. Bila memang gatal-gatal di kulit akhirnya hilang dan tidak kumat lagi. Tapi hasilnya jauh di luar harapan. Sakit kulit tetap mendera bahkan semakin parah.

Sakit kulit yang menurut beberapa orang akibat guna-guna itu masih belum bisa memalingkan saya dari bayangan Alex. Ketakutan akan kehilangan dia membuat saya semakin tertekan luar dalam. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih yang dibanggakan dari dirinya? Dia hanya lulusan SMP dan belum kerja. Sehari-hari dia hanya membantu orangtuanya mengurus kebon.

Seperti yang terjadi pada bulan Agustus, saya nekat menemui Alex yang jauh-jauh datang dari Lampung ke Jakarta. Meski saya menangkap kesan dia tidak lagi seperti dulu. Dingin dan kurang perhatian. “Mas, aku alergi Mas. Bengkak semua. Kulit bentol-bentol semua. Merah. Mulutku juga jontor. Terus gimana Mas?” saya mencoba meminta jalan keluar. “ltu salah cowok kamu.” Seperti disambar halilintar, saya mendengarnya. Belum hilang keheranan saya, saya kembali dibuatnya ternganga. “Diguna-guna kali kamu sama cowok kamu,” ujarnya acuh tak acuh. “Kamu sadar nggak sih ngomong kayak gitu. Cowok saya itu kan kamu?” “Ya cowok kamu yang lain,” sergahnya. Pertemuan yang berbuntut pada pertengkaran sehingga saya memilih untuk pulang duluan.
baca juga:

Pelet Mahabah dan Cara Menghancurkannya


Pertengkaran kembali berlanjut keesokan harinya, ketika dia mengajak bertemu lagi. Juga karena keluhan yang saya sampaikan. “Mas aku pusing.” “Minum saja inex, biar mati sekalian.” Saya heran dengan perubahan yang terjadi. Alex benar-benar telah berubah. la tidak lagi seperti dulu.

Saat itu, saya kembali menegaskan bahwa hubungan antara kita tidak bisa berlanjut. Saya tidak mau menjadi anak yang durhaka dengan melawan orangtua. Terlebih bila Alex memang tidak bertanggung-jawab. Dia hanya mau menang sendiri walau harus menyakiti orang lain.

Keputusan besar sudah dibuat dan tidak ada lagi alasan untuk surut ke belakang, meski sebenarnya hati kecil saya masih belum rela. Tapi semuanya harus diputuskan. Walau kulit terus gatal setiap hari.

Sembuh dengan ijin Allah melalui ruqyah syar'iyyah

Hingga pada suatu hari dokter Farid memberi saya kaset rugyah. Saat saya memutarnya di rumah, saya muntah-muntah. Karena itulah maka saya mendaftarkan diri untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib hingga tiga kali. Saat terapi yang pertama saya sampai muntah darah. Saya juga sempat teriak-teriak. Setelah ruqyah yang pertama saya merasakan kepala menjadi ringan.

Sepulang dari ruqyah saya berusaha untuk selalu mengaji dan membaca surat al-Baqarah. Beberapa minggu kemudian saya mengikuti terapi ruqyah yang kedua. Dan Alhamdulillah, setelah mengikuti terapi yang kedua, saya tidak lagi teringat bayangan Alex. Sakit kulit yang telah berbulan-bulan itu pun hilang dengan sendirinya seiring dengan ketekunan saya untuk shalat malam dan membaca al-Qur’an, selalu membaca basmalah sebelum makan serta membaca al-Ma’tsurat atau doa dan dzikir pagi dan petang.
baca juga:

Text dan Arti Dzikir Pagi dan Dzikir Petang


Selain itu, perasaan saya menjadi tenang ketika berada di rumah. Padahal dulu, baru membuka pintu saja saya sudah merinding. Teman-teman yang sering main ke rumah iuga merasakan hal yang sama. Bahkan antara sadar dan tidak ada seorang teman yang merasa seperti dicekik saat tidur di ruang tamu. “Uni, Uni bangun Uni,” saya membangunkannya. Sebelumnya memang terdengar suara berdebum di atas genteng. Seperti ada benda yang jatuh, tapi entahlah. Kita tidak berani mencarinya.
baca juga:

Cara meruqyah rumah toko atau tempat tinggal


Saya bersyukur setelah mengikuti terapi ruqyah, gangguan yang saya alami selama ini telah hilang. Bayang-bayang Alex iuga tidak lagi menghantui saya. Meski saya akui bahwa ada saat-saat tertentu kenangan lama itu muncul kembali.

Namun satu hal yang saya syukuri bahwa saya bisa keluar dari masalah yang menyesakkan ini dengan lapang dada. Saya kembali menemukan keceriaan dan ketenangan setelah sekian lama hidup di bawah bayang-bayang dan ketakutan akan kehilangan seseorang. Padahal dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya masa lalu yang mengisi lembaran kelabu masa remaja saya. Semoga Allah mempertemukan saya dengan seorang laki-laki yang bertanggung iawab. Dan tentunya dengan proses yang sesuai dengan ajaran lslam. Saya ingin jilbab yang melekat di badan menjadi jembatan kebersihan hati dari debu-debu dosa.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Senin, 11 April 2016

Susah Membaca Al Quran Bahkan Cuman Satu Ayat Ternyata Karena

Susah Membaca Al Quran Bahkan Cuman Satu Ayat Ternyata Karena Santet Kiriman Pejabat - Orang-orang memanggil saya Marjo, lahir di Nganjuk 34 tahun yang lalu. Sejak tahun 1994, saya memiliki banyak kegiatan lintas kabupaten di Jawa timur. Mulai dari Nganjuk hingga Surabaya. Bepergian dengan sepeda motor Surabaya – Nganjuk sebanyak dua kali adalah rutinitas mingguan. Namun, sejak tahun 1998 saya mengurangi kegiatan luar kota, karena suatu sebab yang saat itu belum saya sadari.


Susah Membaca Al Quran Bahkan Cuman Satu Ayat Ternyata Karena gangguan jin dan sihir


Saya lebih banyak aktif di Nganjuk dan mendirikan LSM yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Hasilnya, banyak kecurangan pejabat yang terbongkar. Namun, rupanya mereka tidak rela kecurangannya diketahui banyak orang. Dan dengan cara kejam mereka membalas dendam. Dengan melakukan apa yang sering orang sebut dengan melakukan santet. Dua orang aktifis LSM meninggal. Sungguh licik memang.

Saya sendiri, sejak tahun 1998 sering masuk angin dan mual-mual. Awalnya saya beranggapan itu hanya karena terlalu capek. Ya, capek mengendarai motor Surabaya – Nganjuk dua kali seminggu. Tidak ada pilihan lain saya harus mengurangi aktifitas luar kota, bila tidak ingin merugikan pihak lain. Padahal, saat itu aktifitas saya di Surabaya bisa dibilang padat.

Beberapa aktifitas saya antara lain adalah menjadi Direktur Pendidikan sebuah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu pengetahuan di Surabaya. Menjadi tutor atau dosen di berbagai lembaga Pra Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Mengajar di sebuah Yayasan di Surabaya. Menjadi Pembina karya ilmiah remaja dan jurnalistik di berbagai SMU di Surabaya. Serta mengasuh sebuah media remaja juga di Surabaya 1998-2000.

Melihat kondisi kesehatan yang semakin memburuk, akhirnya pada tahun 2000 saya putuskan untuk meninggalkan semua aktifitas di Surabaya.

Meskipun, aktifitas saya tidak sepadat dulu. Namun, masuk angin dan mual-mual tak kunjung sembuh. Sudah tak terhitung dokter di Nganjuk dan Surabaya yang saya datangi. Tapi saya heran, ternyata diagnosa dokter berbeda-beda. Ada yang mengatakan sakit liver dan ada yang bilang sakit jantung. Saya tidak tahu dokter siapa yang benar. Akhirnya, untuk menenangkan hati dan mempermudah proses penyembuhan saya menjalani berbagai macam pemeriksaan penyakit dalam seperti jantung, asam urat dan lambung. Sungguh di luar dugaan. Ternyata diagnosa para dokter itu tidak benar. Saya tidak menderita sakit seperti yang mereka katakan.

Merasakan Adanya Perubahan Sikap

Semakin hari penderitaan saya tak kunjung berkurang. Bahkan sebaliknya penyakit itu mulai menggerogoti ruhiah saya. Ya, jiwa malas semakin bertambah. Kebiasaan shalat lima waktu berjama’ah di masjid sejak kecil, akhirnya saya tinggalkan. Sehabis maghrib dan shubuh yang biasanya membaca Al-Qur’an satu hingga tiga juz semakin jarang saya lakukan. Bahkan saya mulai lupa membaca Hizb (doa perlindungan) menjelang tidur. Saya juga sering menolak undangan pengajian remaja dan ceramah walimatul ‘ursy dengan alasan takut sakit saya kambuh pada saat pelaksanaan acara.

Bukan hanya itu, saya juga mulai malas menulis karya ilmiah maupun artikel. Padahal, juara nasional penulisan buku Geografi pernah saya raih. Waktu itu saya menghubungkan Geografi dengan isi kandungan Al-Qur’an. Sebuah terobosan baru dalam kurikulum pendidikan nasional.

Memasuki tahun 2003, sakit saya semakin parah hingga harus dirawat di rumah sakit sampai tiga kali. Rawat inap pertama terjadi pada bulan Januari. Seperti biasa, banyak keluarga dan teman saya yang menjenguk sambil mambawa minuman. Saya tidak curiga apa-apa, minuman itu langsung saya minum. Tak lama kemudian, perut saya semakin nyeri, seakan diaduk-aduk. Bahkan sepulang dari rumah sakit saya tidak mampu lagi membaca Al-Qur’an walau satu ayat, badan terasa lemas dan shalat pun gemetaran.
baca juga:

Tanda atau ciri terkena gangguan jin, gangguan sihir atau penyakit ain


Pada bulan Februari, saya harus kembali rawat inap di rumah sakit selama dua minggu. Kejadiannya tidak jauh berbeda dengan rawat inap sebelumnya. Hari-hari berikutnya saya suka marah. Namun saya tidak tahu mengapa suka marah, padahal sebelumnya saya termasuk tipe penyabar dan mudah bergaul. Pernah suatu saat saya mendamprat teman-teman di kantor, hanya karena masalah sepele. Begitu juga di rumah saya sering marah-marah. Seolah-olah mulut ini ada yang menggerakkan.

Terus terang, selama sakit bertahun-tahun itu saya tidak pernah pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mencari penyembuhan, atau mencari jampi-jampi dari si A atau si B yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang di daerah saya. Saya hanya pergi ke tempat praktek dokter yang lebih bersifat rasional. Namun, tanpa sepengetahuan saya beberapa keluarga dan teman baik saya yang melakukan upaya-upaya penyembuhan dari jampi-jampi itu, tanpa memberitahu saya. Dengan tidak menafikan niat baik mereka yang menginginkan kesembuhan saya, saya sangat menyesal akan hal itu.

Memang, ujian yang bertubi-tubi itu semakin mendewasakan dan menyadarkan saya bahwa kekuatan manusia ada batasnya. Ada satu kekuatan yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha segala-galanya yaitu kekuatan Allah. Akhirnya, saya sepakat dengan istri saya untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Bukan berarti saya tidak berusaha dan hanya diam berpangku tangan. Tidak.
baca juga:

tawakal adalah ibadah hati


Harapan itu Masih Ada

Awal Juni itu, saya teringat dengan kaset dan buku Ruqyah dan Do’a, kiriman dari kemenakan saya, Rahmat, yang tinggal di Batam. Saya baca dan saya pelajari isinya. Ternyata, buku tipis itu sesuai dengan keyakinan saya yang tidak percaya pada Tahayul, Khurafat dan Bid’ah. Terbayang kembali beberapa peristiwa yang mengundang tanya beberapa bulan sebelumnya.

Pertama, ada kejadian aneh yang menimpa istri saya. la tidak menstruasi selama tiga bulan. Padahal secara ilmiah seharusnya ia tidak hamil. Kedua, kebalikan dari yang pertama istri saya menstruasi selama tiga bulan berturut-turut. Dan ketiga, kedua anak saya yang berumur tiga dan dua tahun menderita sakit secara bergantian. Setelah saya bawa ke dokter akhirnya mereka sembuh. Namun, selang beberapa hari kemudian giliran saya yang sakit. Bahkan lebih parah dari sebelumnya
baca juga:

Sihir membuat pendarahan pada wanita alias Sihir Nadzif


Daftar peristiwa demi peristiwa itu semakin menambah keyakinan bahwa saya terkena semacam santet atau gangguan jin. Akhirnya, saya mulai melakukan persiapan lahir dan batin. Seperti yang tersebut dalam buku Ruqyah dan Do’a. Saya cari benda-benda syirik yang ada di rumah lalu saya bakar semuanya.

Setelah saya perkirakan semuanya beres, saya mulai mendengarkan kaset Ruqyah dan Do’a lalu mengikuti bacaannya. Di luar perkiraan, ternyata saya bisa membaca Al-Qur’an kembali. Kemudian saya semakin intensif mendengarkan kaset ruqyah. Bisa dikatakan hampir dua puluh empat jam selama dua pekan. Hanya berhenti ketika tape sudah panas.
baca juga:

Download MP3 Ruqyah dan Cara Ruqyah Mandiri


Setelah itu, timbul reaksi yang tidak terduga. Badan saya seakan digoyang-goyang.”Apakah saya sakit jantung?” saya bertanya-tanya. Untuk memastikannya saya opname di rumah sakit untuk ketiga kali sambil terus mendengar kaset ruqyah. Perawatan di rumah sakit, rupanya bukanlah tempat yang pas buat penderitaan seperti yang saya alami. Selama di rumah sakit terus terang- tidak ada perubahan, bahkan reaksi dari santet itu semakin kuat. Akhirnya saya pulang ke rumah dan melanjutkan ruqyah melalui kaset. Tak lupa saya mengintensifkan shalat malam.

Menakjubkan, tangan saya bergerak sendiri dan menunjuk ke sana kemari tanpa digerakkan dengan syaraf motorik. Awalnya saya takut juga, “Kok bisa bergerak sendiri?” Saya pun meminta petunjuk kepada Allah. Saya sadar sepenuhnya bahwa badan yang luar seharusnya bersih terlebih dahulu sebelum diruqyah, baik pikiran maupun lingkungan. Dalam dua hari saya mencari benda-benda syirik seperti kemenyan, rajah, garam dan jimat di lingkungan rumah dan pekarangan. Saya cari buku-buku yang agak ‘porno’ dan pakaian yang tidak pantas dipakai. Saya kumpulkan dan saya bakar semuanya.
baca juga:

efek batu akik dan jimat jika dianggap sebagai perlindungan


Subhanallah, setelah mendengar kaset Ruqyah dan Do’a, tangan saya bisa mencari benda-benda syirik dengan mata terpejam. Hanya dengan panduan dzikir. Tangan saya pernah menemukan kemenyan yang disembunyikan di selokan. lnilah kekuasaan Allah.

Dua hari berikutnya benda-benda syirik itu minta dipulangkan ke majikannya. Tangan saya menunjuk kesana kemari. Sebab jin itu kepanasan. Akhirnya, saya sebutkan nama kiai satu persatu. Bila disebut nama si A, ia mau dan bila di sebut nama si B, tidak mau. Berarti benda sihir itu miliknya si A. Kemudian saya bentak-bentak dan saya pukuli tangan saya.

Begitulah, hingga pada suatu hari, waktu itu hari Sabtu, saya menemui Ustadz Fadzlan di kota Gede, Yogyakarta. Saya minta diruqyah dan nasehat. Setelah dimotivasi dan disuruh banyak berdzikir saya pulang ke rumah.

Kejadian Saat Ruqyah Mandiri

Sewaktu di rumah Ustadz Fadzlan saya tidak mengalami apa-apa. Tapi setelah tiba di rumah saya bisa dialok dengan jin yang masuk ke tubuh saya. Dengan cara memijit tempat yang sakit. Begitu dipijit jin berkata, “Aduh.” Kemudian saya tanya lagi, “Darimana kamu?” ‘Dari pejabat yang mencari kami (sekelompok jin).” Lalu jin itu menyebut tiga tempat. Dua di Jawa Timur dan satu lagi di daerah Jawa Barat.

“Kami sudah menyerangmu sebanyak delapan kali,” demikian jin itu menambahkan. Akhirnya saya bentak lagi, “Saya tidak peduli, yang penting kalian harus keluar.’ Akhirnya keluarlah jin-jin itu. Menurut pengakuannya, jumlah mereka empat, lalu disusul tiga temannya. Yang terakhir keluar adalah jin yang katanya berupa ular.

Besoknya ada lagi jin yang masuk. Ternyata ketika saya sedang dirawat di rumah masih ada orang yang tega mengirim sihir kembali. Saya bentak jin itu dan saya suruh membaca “Allahu Akbar.” Terakhir, setelah saya shalat hajat muncul lagi jin yang mengaku malaikat. “Saya malaikat yang menuntun manusia,” katanya. Dia mengaku malaikat Mikail dan Jibril. Saya katakan, “Tidak ada malaikat yang mengganggu manusia. Ayo, kalau kamu malaikat katakan, Allahu Akbar lima kali.” Demikian saya menantangnya. Akhirnya, baru mengucapkan takbir tiga kali saja jin itu sudah tidak mampu dan hilang tak bersuara.

Ketika dialog dengan jin saya membaca, ayat yang artinya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin : 6).

Juga ayat yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikutijalan yang bukan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam. Sesungguhnya neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Sebenarnya, selama dialog itu saya sempat terkecoh juga. Karena ada jin yang memuji, “Kamu itu hebat, tidak mempan sama sekali digini-ginikan (disihir dengan berbagai cara). Dan ‘kiai’ di Nganjuk itu sudah kalah dengan kamu semua.”

Ya, saya manusia normal yang terkadang terkecoh oleh indahnya pujian. Namun, saya cepat istighfar dan menyadari bahwa ini semua adalah bagian dari tipu daya syetan. Secara umum, jin yang menganggu saya terbagi menjadi tiga kelompok. Anehnya, setiap jin itu berbicara seperti suara orang-orang yang mengutusnya.

Pertama adalah jin kiriman enam orang pejabat yang balas dendam atas terbongkarnya kecurangan mereka dalam birokrasi. Demikian besarnya kemarahan mereka hingga ada seorang pejabat yang sangat intensif mengirimkan jin sampai delapan kali.

Jin kiriman pelabat itu mengaku berasal dari beberapa wilayah yang terkenal sebagai daerah perdukunan di Jawa Timur, juga dari sekitar Nganjuk sendiri. Memang, suara-suara jin itu persis dengan suara orang-orang yang saya kenal.

Kedua adalah orang yang kerjaannya memang mengirim sihir. Katanya ia merasa tersinggung sebab ia pernah saya tindak tegas ketika tertangkap mencuri barang-barang milik tetangga

Ketiga adalah seorang pemuda yang jatuh hati pada istri saya. Meskipun saya tidak mengenalnya. Pemuda itu sempat beberapa kali mengirim sihir. Pertama, ia menggunakan sihir pelet untuk menghalangi pernikahan saya dengan istri saya. Kedua, mengirim sihir dengan menggunakan (maaf) celana dalam wanita yang masih baik tetapi dikotori. Benda sihir itu di belakang rumah saya.

Sekarang, setelah mereka melihat saya dalam keadaan sehat, seakan sihir mereka yang beruntun itu tidak mampu menembus. Mereka menjadi kalang kabut. Bahkan orang yang suka melakukan sihir yang sering disebut orang dengan mengirim tenung yang rumahnya tidak tidak seberapa jauh dari rumah saya, mengetahui kalau dua benda sihir kirimannya itu saya cari dan dan ketemu lalu saya bakar. Mengetahui sihirnya gagal, ia mengirim sihir kembali. Setelah, itu badan saya bereaksi kembali, reaksi yang mengindikasikan datangnya sihir. Lalu saya cari, dan ketemu. Ternyata, ada pagar yang melingkar, saya bakar lagi. Keesokan harinya ia mengirim kembali. Saya cari lagi. Rupanya ada kerikil yang nyasar di tembok. Kemudian saya bakar. Tak terasa dua hari saya perang dengan sihirnya. Saya berdo’a, semoga Allah memberinya hidayah.
baca juga:

Apakah Manusia Jin dan Malaikat Mengetahui yang Ghaib?


Saya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ujian yang saya alami beberapa tahun itu membuka kesadaran saya akan Keagungan wahyu Allah. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan benteng paling kuat mempertahankan diri dari serangan jin. Senjata paling ampuh melawan dan melumpuhkan mereka. Jangan biarkan diri terkecoh tipu daya syetan yang berlindung dibalik manisnya kata. Dan bertopeng manusia.

Saya sangat sadar bahwa hanya dengan penyerahan diri kepada Allah dan tunduk kepada perinah dan larangan-Nya kita bisa selamat dari tipuan syetan apapun bentuknya. Jin adalah makhluk lemah dihadapan orang yang benar aqidahnya, baik pekertinya. Sebaliknya jin menggoda orang-orang yang lemah imannya. Karena itu, marilah kita membentengi diri dengan meningkatkan iman dan amal baik.
baca juga:

Ikhlas Terhadap Takdir Dan Keputusan Allah


Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Ilmu Terawangan Khodam Leluhur Membuatku.......

Ilmu Terawangan Khodam Leluhur Membuatku....... - Menjadi senjata makan tuan. Itulah pepatah yang menggambarkan kehidupan Monika (32) seorang artis ibukota. Sebagai seorang ahli terawangan, ia biasa menerawang masa depan atau apa yang sedang terjadi di tempat lain. Juga dengan ilmu terawangan, jin yang dikirim untuk menjaga suaminya, menggambarkan dengan jelas, bagaimana perselingkuhan suaminya terjadi. Dari detik ke detik. Sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan. Monika menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bekasi. Berikut kisahnya.

Leluhurku merupakan orang orang sakti pada jamannya

Menurut cerita yang kudengar dari orangtuaku, kakek dari pihak ibu tergolong orang sakti. Ia memiliki kemampuan linuwih untuk membuat aneka keris yang ‘sakti’. Proses pembuatannya pun tidak sembarangan. Diperlukan tirakatan dan lelakon tertentu. Seandainya kakek hidup pada zaman kerajaan tempo dulu seperti Majapahit atau Singosari, tentu ia berhak mendapat sebutan sebagai seorang Empu. Seperti halnya kisah Empu Gandring yang sangat popular di kalangan ahli sejarah.

Beberapa keris dan benda-benda pusaka lainnya ada yang masih tersimpan di rumah nenek. Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku menginap di rumah nenek di Cilacap, Jawa Tengah aku mengalami kejadian aneh. Secara naluriah aku merasakan ada keanehan di salah satu sudut ruangan. Aku merasa ada makhluk aneh berdiam di bawah lantai. Dengan reflek kuperintahkan makhluk itu keluar.

“Eh, kamu yang di sana, keluar” teriakku sambil menunjuk ke bawah keramik.

Dari bawah keramik di kamar 3x4 itu keluarlah sosok hologram setinggi tiga meter. Aku teringat dengan film Aladin. Sosok jin bertubuh tinggi besar keluar dari guci kuno. Sosok hologram itu pun duduk bersila di lantai. Laksana seorang pengawal yang bersimpuh di hadapan rajanya.
baca juga:

Perbedaan Manusia, Malaikat, Jin dalam Al Quran dan Hadist



Ilmu Terawangan Kodham Leluhur Membuatku menjadi sakit sakitan dan ternyata itu semua gangguan jin khodam leluhur


“Ada apa kamu mengusirku? Aku sudah lama tinggal di rumah ini,” kata jin tersebut. Aku terkesima. Sama sekali tidak kuduga bila ada yang menyambut seruanku. Aku hanya mengikuti kata hati yang merasakan adanya keanehan di rumah nenek. Orang Jawa bilang rumah nenek itu singup. Hawanya kurang bersahabat.

Mungkin karena usia muda, dengan entheng kuperintahkan jin itu keluar. “Ya sudah, kamu keluar dari rumah nenek,” kataku.

“Tidak bisa. Aku sudah lama tinggal di rumah ini,” kata jin tersebut yang enggan meninggalkan rumahnya. Aku pun terus berdialog. Dengan tetap pada satu keyakinan bahwa jin tersebut harus keluar dari rumah nenek.

Entah mengapa, jin itu kemudian menyerah dengan memberikan persyaratan. “Aku mau keluar dari rumah ini, tapi aku mau ikut kamu saja,” katanya. Aku tidak tahu bagaimana memberikan jawaban atas permintaannya. Tiba-tiba sosok hologram itu telah menghilang dari hadapanku. Ia melayang menembus dinding dan lenyap dari pandanganku.

Aku pun hanya terdiam. Sebuah peristiwa aneh yang belum pernah kualami. Aku masih tidak percaya. Keesokan harinya, ketika diadakan persekutuan kecil (ritual keagamaan Kristen) di rumah nenek, pendeta berkata kepadaku. “Mbak Monika, kamu bisa merasakan apa yang ada di sekeliling kita ini?” karanya lirih.

Aku mengerti maksud pembicaraan pendeta. Aku pun berkonsentrasi sejenak. Kucoba merasakan keanehan yang ada di sekelilingku. Perlahan kusisir dengan mata batinku. Satu persatu kusisihkan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan permintaan pendeta. “Ada burung di bawah lantai. Warnanya hitam,” kataku pelan.

“Ya, itu burung gagak,” seru pendeta. “Terus kamu teliti lagi di dalam sini ada apa saja,” katanya sejurus kemudian.

Aku kembali berkonsentrasi. “Aku melihat peti kecil berbendera. Peti itu sepertinya ditanam, “ kataku tak lama kemudian.

Pendeta itu menyadari bahwa kelak kehidupanku akan banyak bersentuhan dengan dunia ghaib. Aku akan banyak berhubungan dengan dunia jin seperti dirinya. Karena aku bisa melihat burung gagak beserta peti dan benderanya. Sebuah pemandangan yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Ia mengatakan bahwa kemampuan yang kumiliki ini tergolong satu dari tujuh mukjizat. Mukjizat lainnya adalah bisa mendengar suara nyanyian dari surga, bisa ceramah, bisa melihat makhluk dan berkomunikasi dengannya.

Setelah pendeta pulang, tinggallah aku, adikku dan seorang temanku, Dira, yang berdiam di rumah nenek. Jiwa usilku kembali muncul. Kuperintahkan burung gagak tersebut untuk keluar dari bawah keramik. Dalam pandangan mataku, burung itu benar-benar keluar dari bawah keramik. Hanya saja, burung itu tidak bisa dilihat oleh adikku dan Dira.

Kuperintahkan dia meninggalkan rumah nenek, tapi tidak mau. Burung itu terbang ke pojok ruangan. Aku mengejarnya. Kami terus bertarung. Satu dua pukulanku telah menerpa badannya. Burung gagak itu sempat terdesak. la terbang keluar rumah. Dari ujung gang burung gagak itu melempariku dengan bola-bola api. Aku menjerit kesakitan. Bola-bola itu terus menghantam diriku.

Adik dan Dira terperangah. Mereka hanya melihat gerakan badanku yang kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya pasrah melihatku seperti orang kesakitan. Kukatakan kepada adik dan Dira apa yang baru saja kualami. Keduanya percaya dengan apa yang kukatakan, meski mereka tidak melihatnya. Bertiga, kami kembali melakukan persekutuan kecil. Kami meminta perlindungan kepada Tuhan dari keburukan makhluk ciptaan-Nya.

Ketika kami sedang dalam kondisi berdoa, yang datang makin aneh-aneh. Ada yang berbentuk pocong. Ia menghampiriku sambil menyeringai. Aku menjerit ketakutan. Sementara adik dan Dira hanya bisa melihat reaksiku. Mereka tidak melihat apa yang kulihat. Bergantian makhluk-makhluk aneh terus menggangguku. Ada raksasa. Ada ular dan macan.

Adlk dan Dira berusaha melindungiku dari terkaman macan dan gigitan ular. Sambil menangis dan berdoa. Tak terasa, pertarungan itu berlangsung hingga jam setengah sepuluh malam. Pertarungan itu terhenti dengan sendirinya, setelah badanku kelelahan. Kemudian aku pun tertidur.
baca juga:

Kisah Nyata pertarungan peruqyah dengan Jin Naga


Menjadi incaran jin di kos-kosan

Sejak pertemuan dengan jin di rumah nenek itu, persinggunganku dengan dunia jin terus berlanjut. Aku bisa melihat penampakan bangsa jin, meski orang lain tidak ada yang melihatnya. Kebetulan, sewaktu kuliah aku tinggal di kos-kosan. Di samping lebih dekat dengan kampus juga hemat biaya.

Di tempat kos itulah jin laki-laki, katanya, banyak yang suka kepadaku. Hal ini kuketahui dari jin yang merasuk ke dalam tubuhku. Suatu ketika, aku hendak mandi. Ternyata di dalam kamar mandi sudah ada jinnya. Kuperintahkan dia keluar. Jin itu pun menurut. Namun, beberapa menit berselang, ketukan pintu bertubi-tubi menggangguku. Pikirku dia adalah jin yang barusan keluar. Ternyata benar. Jin itu enggan tinggal di kamarku. la lebih memilih tinggal di kamar mandi.

Penampakan jin di kamar mandi itu hanyalah satu dari sekian penampakan jin yang kulihat di ternpat kos yang kebetulan banyak kamar kosongnya. Entah mengapa, banyak mahasiswi yang enggan kos di sana. Apakah mereka sering mendapat gangguan dari jin? Aku tidak tahu.

Setelah peristiwa demi peristiwa yang kualami, jadi apa yang menimpaku juga menimpa mereka. Bedanya, mereka tidak bisa berdialog dengan jin seperti dlrlku.

Suatu ketika, aku menderita demam di tempat kos. Sudah berhari-hari suhu panas badanku tidak kunjung turun. Teman-teman yang mulai mengkhawatirkan kondisiku berinisiatif untuk menghubungi orangtuaku. Ketika mama menjengukku di tempat kos, tiba-tiba suaraku berubah. Kata mama, aku kerasukan jin yang mengaku bernama Magdalena.

Katanya, ia merasuk ke dalam diriku, karena ingin melindungiku dari gangguan jin laki-laki yang suka iseng. Ia pun menyarankan agar aku segera dibawa ke rumah sakit. “Tante-tante, anaknya sudah harus dibawa ke rumah sakit nih. Ini sudah parah.” Saat jin Magdalena berkata begitu, aku sudah tidak sadarkan diri.

Akhirnya mama membawaku ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit itu, katanya, jin Magdalena terus berkomentar macam-macam. Ia mengatakan ini dan itu. sesampai di depan rumah sakit, mama jengkel karena jin Magdalena ngoceh terus. “Kalau kamu mau menolong Monika, kamu harus keluar,” kata mama.

“Ya sudah, aku mau keluar. Tapi syaratnya nanti kuburanku di Petamburan, Jakarta Barat harus ditengok,” pinta jin Magdalena.

Mama menyetujui permintaan jin Magdalena. Begitu menginjak pintu rumah sakit, aku sadarkan diri. Tapi binatang kus-kus peliharaanku langsung mati. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan kepergian Magdalena dan kematian kus-kus. Tapi yang jelas, karena ketidakmengertian, akhirnya tiga hari berselang dari kesembuhanku, dengan diantar mama aku mendatangi kuburan yang ditunjukkan jin Magdalena. Masalahnya, nama Magdalena begitu banyak tertera di atas batu nisan hingga kami kebingungan. Kami pun meninggalkan kuburan tanpa tahu di mana makam jin Magdalena.
baca juga:

Tanda atau ciri terkena gangguan jin, gangguan sihir atau penyakit ain


Menjadi Peramal di Kampus

Perlahan namun pasti, aku mulai memiliki kemampuan menerawang. Aku tidak tahu bagaimana keahlian itu mengalir dalam diriku. Tiba-tiba saja aku iseng ketika ada teman kos yang memajang foto pacarnya di dinding. “Tak lama lagi kamu akan pisah dengan dia,” kataku acuh tak acuh. Rupanya, temanku itu tidak terima. Ia marah dan langsung memukulku. Aku dianggap telah berdoa yang tidak baik. Karena itu, aku diam saja diperlakukan begitu. Karena aku tahu bila dia mencintai pacarnya.

Masalahnya, dalam terawanganku, aku mendapat isyarat bahwa hubungan mereka hanya tinggal hitungan hari. Apa yang kukatakan itu benar adanya. Hubungan mereka putus. Seperti bunga yang layu sebelum berkembang. Dari sini, kemampuan terawanganku menyebar dari mulut ke mulut. Sampai ada yang khusus datang ke kamarku hanya minta diterawang masa depannya. Ia datang menghadapku dengan begitu hormatnya seperti sedang berhadapan dengan seorang dukun. Dia mengatakan bila hubungannya dengan pacar ditentang oleh orangtua pacarnya.

Melihat tingkahnya aku sampai menahan geli. Tapi apa mau dikata. Kucoba konsentrasi sejenak. Gambaran wajah pacarnya pun hadir dalam benakku. “Pacarmu, rambutnya pendek, kulitnya putlh, cakep, ...” tanyaku setelah menerawang.

“Benar,” katanya dengan mata berbinar.

“Di antara ruang tamu dan ruang tengah rumahmu ada sekat seperti lemari. Di sebelah kiri ada kamarnya,” kataku lagi. Ia membenarkan ucapanku lalu bertanya. “Gimana,lebih baik dilanjutkan atau tidak?”

Waktu itu aku tidak punya tendensi apa-apa. Kukatakan saja bila pacarnya itu terlalu didominasi oleh ibunya. Tak lama lagi, hubunganmu akan putus. Wanita muda itu mendengarkan ucapanku dengan antusias. Meski aku tahu, dalam hatinya ia sulit menerima apa yang kukatakan dengan tenang. la sudah sekian tahun berpacaran, lalu mengapa harus berpisah?

Beberapa hari kemudian, jawaban dari terawanganku menemukan hasil. Wanita itu, katanya, sudah diputus sama pacarnya. Sang pacar lebih memilih menuruti orangtuanya daripada pilihannya sendiri.

Selain terawangan dengan hasil yang akurat, aku juga pernah dibohongi jin yang memberikan terawangan yang salah. Kisahnya bermula ketika bapakku kehilangan uang dua juta lima ratus ribu rupiah. Sebuah nilai yang tidak sedikit. Akhirnya bapak mengumpulkan dua puluhan orang yang mungkinkan mengambil uang tersebut. Bapak kemudian memintaku menerawang. Siapa di antara mereka yang mengambil uangnya.

Kucoba konsentrasi. Petunjuknya mengarah kepada satu orang yang masih teman bapak sendiri. Bapak kemudian menanyai orang tersebut, tapi dia tidak mengaku. Waktu itu aku sangat yakin dengan terawanganku, maka kukatakan pada bapak. “Cari saja di mobilnya. Mungkin diumpetin di jok mobil,” kataku.

Beberapa orang kemudian menggeledah mobilnya, tapi tetap tidak menemukan hasilnya. Dalam keadaan mata terpejam, jin yang merasuk ke dalam diriku sempat berkata melalui diriku. “Kamu harus jujur. Jangan suka mencuri.” Aku malu bila mengingat kejadian itu. Aku telah mempermalukan orang di muka umum.

Melihat terawanganku tidak berhasil, akhirnya bapak memanggil orang pintar yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumahku. Hasil terawangannya sama dengan terawanganku. Masalahnya orang yang tertuduh tetap tidak mengakui bahwa dia yang mencurinya.

Dua hari kemudian, kepastian uang itu didapat. Ternyata uang dua juta setengah yang diributkan itu masih tersimpan dalam rekening tabungan bapak. Selama ini uang tersebut belum sempat diambilnya.
baca juga:

Apakah Manusia Jin dan Malaikat Mengetahui yang Ghaib


Menerawang Perselingkuhan Suami

Kebiasaan untuk menerawang masih berlanjut meski aku telah memeluk agama lslam dan menikah. Bedanya, bila dulu terawangan itu kumanfaatkan untuk meneropong orang lain, setelah menikah terawangan itu kupergunakan untuk memonitor suamiku.

Sebagai seorang penyanyi aku menikah dengan seorang artis. Sebut saja namanya Leo. Sebagai istri seorang artis aku sadar memang tidak mudah. Ada banyak godaan yang menerpa suami. Baik godaan dari sesama artis maupun penggemarnya.

Suatu ketika, suamiku sedang syuting di daerah puncak, Bogor. Hatiku mulai tidak tenang. Terlebih lagi suamiku pernah cerita bahwa ada seorang pemain yang suka menggodanya. Kegelisahanku semakin memuncak ketika aku sedang shalat. Entah mengapa tiba-tiba terlintas bayangan suamiku digoda seorang wanita.

Selesai shalat, aku berbicara dengan salah satu jin. “Tolong, jagain dia. Jaga dia dari apapun yang tidak baik,” kataku kepada salah satu jin yang selamaini sering dialog denganku.

Selang sehari kemudian, aku mendapat terawangan bahwa suamiku tidur satu pavilyun dengan pemain wanita yang selama ini menggodanya. Dalam terawangan itu tergambar dengan jelas bagaimana pemain wanita yang mengenakan daster tipis berwarna pink mendekati suamiku. Ia mendekat lalu memeluknya.

Seketika aku terkesiap. Dadaku sesak. Aku merasakana ada sesuatu yang tidak beres di sana. Aku langsung menghubungi adik kandungku yang kebetulan juga ikut terlibat di kegiatan syuting itu. Kukatakan terawanganku apa adanya. Adikku membenarkan bila artis wanita tersebut sering mengenakan daster pink. “Ada bordernya,” kataku.

“Iya.” Dari balik telepon, adikku membenarkan terawanganku. Katanya, suamiku tinggal satu pavillyun dengan wanita yang suka menggodarya. Namun, mereka tidur di kamar yang berbeda. Sementara ruangan tamu dipakai kru-kru syuting lainnya.

Dadaku semakin sesak. Apa yang kukhawatirkan semakin mendekati kenyataan. Akhirnya, masih dengan hati yang panas, kuhubungi suamiku. Ia berusaha menjelaskan kondisi yang sesungguhnya. Bahwa ia tidak mungkin berhubungan dengan wanita lain. Terlebih ruangan tamu disesaki oleh kru syuting.

Untuk sementara hatiku sedikit tenang. Tapi bukan berarti aku sudah terbebas dari perasaan cemburu. Sebagai seorang istri wajar bila aku emosi melihat suami didekati wanita lain. Meski itu hanya ada dalam terawangan. Yang masih menyimpan kemungkinan benar dan salah.

Akibatnya, percekcokan dalam rumah tanggaku tidak lagi terelakkan. Pada satu sisi ketika hatiku tidak tenang, maka kugunakan kemampuan terawanganku. Namun, pada sisi lain, apa yang kulihat dalam terawangan itu disangkal suamiku. Ia tidak mengakui bila telah selingkuh. Hingga suatu ketika, aku harus kembali berpisah dengan suamiku untuk rentang waktu yang cukup lama. Tiga bulan kami terpisah karena jarak. Aku di Jakarta, sementara suamiku di Jawa Tengah.

Saat terpisah itulah hatiku gelisah. Aku tidak tenang. Dalam terawangan itu muncullah dua insan berlainan jenis yang sedang berhubungan intim. Satu orang kukenal dengan baik, karena dia adalah suamiku. Sementara wanita yang bersamanya, sama sekali belum kukenal.

Awalnya, aku tidak percaya. Paling syetan lagi, syetan lagi, pikirku. Tapi ketika terawangan yang sama berulang beberapa kali, aku mulai gelisah. Aku berada dalam kebimbangan antara percaya dan tidak.

Untuk menghilangkan keraguan itu, kuputuskan untuk menemui suami di Jawa Tengah dengan membawa anakku yang baru berumur satu tahun. Firasatku mengatakan, aku harus menjemput suami di tempat kerjanya. Lalu mengajaknya makan di restauran.

Firasat itu kuikuti. Kujemput suamiku di tempat kerjanya. Lalu mengajaknya makan malam di restauran. Saat itu kami mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan pulang dari restauran. ada seorang pengendara motor yang berusaha membuntuti kami. Ia terus menguntit kami sambil marah-marah. Ia menyuruh suamiku meminggirkan sepeda motornya.

Karena takut terjatuh, padahal aku sedang menggendong anakku, kusuruh suamiku berhenti sebentar. Pengendara sepeda motor tersebut kemudian menyerahkan selembar amplop berisi foto kepadaku dengan marah. Amplop itu pun langsung dirampas suamiku sebelum sempat kubuka.

Sesampainya di rumah, aku meminta amplop itu dengan baik-baik. Tapi suamiku enggan memberikannya. Berulang-ulang aku memintanya sampai dengan nada yang agak meninggi, ia baru memberikannya.

Amplop itu berisi foto suamiku yang berduaan dengan seorang wanita. Posisi mereka dekat sekali. Seperti amplop dengan perangkonya. melihat foto itu kemarahanku tidak tertahankan. Dengan reflek kutendang ulu hatinya. suamiku terkapar. Ia nyaris pingsan.

Melihat suamiku yang sudah tak berdaya, kucoba nengontrol diri. Kutanyakan siapa wanita itu, tapi ia tetap tidak mau mengaku. Sampai aku mengancamnya. “Kalau suatu saat aku tahu kamu melakukan apa yang sudah kulihat dalam terawanganku, kamu ingat baik baik, sepuluh kali lipat aku akan melakukan itu. Aku akan melakukannya di depan matamu.”

Ancamanku berhasil. Aku melihat raut mukanya berubah. Satu hal yang menunjukkan bahwa ia telah selingkuh. Beberapa hari kemudian, ia mengakui kesalahannya. Ia menangis sampai bersimpuh di depanku meminta maaf. Dia mengatakan bahwa aku boleh melakukan seperti yang dilakukannya.

Tapi aku tidak bodoh. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak mau berbuat dosa yang menjijikkan itu. Ancamanku itu hanyalah bagian dari penyelidikanku atas kebenaran terawanganku.

“Kok kamu tidak takut, waktu kamu melakukan itu. Kamu kan tahu siapa aku,” kataku dengan nada bergetar menahan marah.

“Justru itu, pertama kali aku melakukan hubungan badan itu aku menangis. Karena aku yakin kamu pasti tahu,’ katanya dengan suara sesenggukan.

“Tapi mengapa ada dua, tiga dan empat?’ kataku tegas. “Kalau sekali, kumaafkan kamu. Kamu khilaf. Tapi kalau lebih dari dua kali itu kamu bukan khilaf.’ Saat itu aku langsung minta cerai, tapi dia tidak mau. Akhirnya aku menempuh langkah pisah ranjang. Hingga kini sudah hampir setahun aku tidak lagi serumah dengan suamiku. Meski kami belum resmi cerai.

Hatiku benar-benar terluka mendengar pengakuannya. Aku dapat melihat dari awal sampai akhir kisah perselingkuhan mereka. Satu kenyataan yang tidak bisa dilakukan wanita kebanyakan yang suaminya berselingkuh.
baca juga:

Fenomena Anak Indigo Menurut Islam


Mengenal metode penyembuhan ruqyah secara syar'iyyah

Pertemuanku dengan tim Ghoib Ruqyah Syar’iyyah (GRS) cabang Bekasi bermula ketika aku sakit kepala yang luar biasa. Selain itu perasaanku sering tidak enak. Tidak ada masalah apa-apa tiba-tiba aku menangis. Lain waktu aku marah tanpa sebab. Kadang-kadang penglihtan dan pendengaranku menjadi kabur.

Ada yang mengatakan bahwa aku terkena pelet yang sudah menahun. Bila tidak diobati, katanya, dikhawatirkan aku bisa gila. Akhirnya aku disarankan mengikuti terapi ruqyah di GRS cabang Bekasi.

Setelah diruqyah Ustadz Ahmad dan Ustadz Munif kondisiku makin membaik. Sakit kepala bisa dikatakan sudah sembuh 80 %. Yang lebih penting dari itu, aku tidak lagi menerapkan ilmu terawangan yang hadir dengan sendirinya. Hatiku sudah mantap untuk melepaskan kemampuan yang hanya merugikan diri dan keluargaku. Aku tidak ingin menjadi intip neraka lantaran bekerja sama dengan syetan.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 84/4

Artikel Terbaru