Tampilkan postingan dengan label Kisah_Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah_Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

KISAH NABI SAMSON (SAM'UN GHOZI AS)

Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa Jumlah Nabi menurut hadits yaitu 124.000 Orang, dan Rasul berjumlah 312 Orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul .

Dari Abi Zar ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi,”
Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu ( 124.000 ) nabi.”” Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka ?
”Beliau menjawab, ”
Tiga ratus dua belas ( 312 ) Orang . ”
( Hadits Riwayat At-Turmuzy )

Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS .
Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa .
KISAH NABI SAMSON (SAM'UN GHOZI AS)



Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana .

Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab .
Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir .

Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali,
diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan .
Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi .
Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil .

Kamis, 04 Juni 2015

Jika anda seperti aku maka berubahlah sebelum terlambat

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Jika anda seperti aku maka berubahlah sebelum terlambat




Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan… berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil… Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan… tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

Selasa, 26 Mei 2015

mengapa berteriak saat amarah menguasai

Suatu hari seeorang guru yg bijak bertanya kepada murid murid nya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam kondisi marah, bicaranya keras atau berteriak?”

Seorang muridnya menjawab, “Karena pada saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, sehingga ia berteriak.”
mengapa berteriak saat amarah menguasai



“Tetapi, lawan bicaranya justru ada di hadapannya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tidak bisa bicara degan halus?”

Hampir semua muridnya memberi sejumlah alasan senada dengan murid sebelumnya. Namun tidak ada jawaban yg memuaskan.

Sang guru lalu berkata, “Ketika dua orang sedang dlm kondisi amarah, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh, walaupun secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak itu mereka harus berteriak.
Namun anehnya, makin keras mereka berteriak, semakin marah mereka, jarak hati diantara keduanya semakin menjauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Minggu, 17 Mei 2015

GARA-GARA MEMETIK BUAH APEL

Anda tentu mengenal nama Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, salah seorang ulama besar, dan termasuk salah satu dari imam empat mazhab. Ada kisah menarik, berkaitan dengan beliau, tetapi kisah ini bermula di saat beliau belum lahir.
Pada abad pertama hijiriah, terdapat seorang pemuda yang mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu syar’i, tetapi ia sangat miskin. Suatu hari ketika ia merasa sangat lapar dan tidak mendapatkan sesuatu apapun yang bisa dimakan. Ia berusaha mencari makanan di luar rumahnya. Kemudian, ia berhenti di salah satu kebun yang penuh dengan pepohonan apel, yang salah satu rantingnya menjulur ke jalan. Karena sangat lapar, ia terdorong untuk memakan apel tersebut, apalagi ia merasa perlu untuk mempertahankan raganya. Ia juga berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya, disamping ia juga merasa bahwa kebun tersebut tidak akan berkurang dengan sebab satu biji apel saja. Maka, ia beranikan diri untuk memetik satu buah apel dan memakannya hingga rasa laparnya hilang.



Ketika beranjak pulang ke rumah, jiwanya mulai mencacinya. Beginilah contoh kondisi seorang mukmin yang tidak bisa tenang jika telah melakukan pelanggaran. Ia duduk termenung sambil berkata,

“Bagaimana aku bisa memakan buah apel itu padahal itu adalah harta seorang muslim, dan aku belum meminta izin kepadanya?

Artikel Terbaru