Tampilkan posting dengan label Kisah_Inspiratif. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Kisah_Inspiratif. Tampilkan semua posting

Kamis, 07 April 2016

Uwais Al Qarni, Tidak Terkenal Di Bumi tapi Terkenal Di Langit

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.



Uwais Al Qarni, Tidak Terkenal Di Bumi tapi Terkenal Di Langit




Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: "Cerita ini diambil dari buku '20 Kisah Sahabat dan Thabiin' terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo."

Kamis, 18 Februari 2016

Ummu Mahjan-Surga Bagi Pecinta Masjid

Kisah Ummu Mahjan Imbalan Surga Bagi Penjaga dan Pecinta Masjid - Masjid adalah tempat ibadah umat islam yang menjadi sentral dan urat nadi agama islam. Di tempat ini umat islam menyembah dan tunduk dengan ikhlas memuja dan memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala pencipta kehidupan di alam semesta.

Orang yang mendapat petunjuk adalah yang memakmurkan masjid

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surah At Taubah yang artinya:
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah…. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

“Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yg hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dibawah ini ada contoh kisah seorang wanita yang sangat menjaga kebersihan masjid Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

Kisah Ummu Mahjan Imbalan Surga Bagi Penjaga dan Pecinta Masjid - Masjid adalah tempat ibadah umat islam yang menjadi sentral dan urat nadi agama islam.



Ummu Mahjan selalu membersihkan masjid Rasulullah

Pada zaman Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ada seorang wanita hitam bernama Ummu Mahjan. Dia selalu menyempatkan diri membersihkan masjid Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Suatu hari ketika Rasul sedang ke pemakaman, beliau melihat sebuah kuburan baru.

Rasul bertanya, “Kuburan siapa ini, wahai para sahabat?”

Mereka yang hadir di situ menjawab, “Ini kuburan Ummu Mahjan, ya Rasulullah.”

Rasulullah menangis saat tahu Ummu Mahjan meninggal

Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam langsung menangis begitu mendengar berita tersebut, lalu beliau menyalahkan para sahabatnya, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kematiannya kepadaku supaya aku bisa menyalatinya?”.....

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, pada waktu itu matahari sedang terik sekali.” Rasulullah diam saja mendengar jawaban tersebut.

Lalu, beliau berdiri dan shalat untuk mayit yang sudah ditanam beberapa hari itu dari atas kuburnya. “Bila ada di antara kalian yang meninggal dunia, beri tahukan kepadaku, sebab orang yang kushalati di dunia, shalatku itu akan menjadi syafa‘at di akhirat.”

Sesudah berkata demikian, Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kemudian memanggil Ummu Mahjan dari atas kuburnya. “Assalamualaikum ya Ummu Mahjan! Pekerjaan apa yang paling bernilai dalam daftar amalmu?”

Pekerjaan yang paling berharga bagi ummu mahjan adalah membersikan masjid Rasulullah

Rasulullah SAW diam sejenak. Tak lama kemudian beliau berkata, “Dia menjawab bahwa pekerjaannya membersihkan masjid Rasulullah adalah pekerjaan yang paling bernilai di sisi Allah. Allah Ta'ala berkenan mendirikan rumah untuknya di surga dan dia kini sedang duduk-duduk di dalamnya.”

Masjid adalah perekat umat dan tempat menimba ilmu

Secara fisik, masjid adalah bangunan biasa yang terdiri atas lantai, tiang, dan atap. Namun, secara spiritual, masjid adalah poros nadi umat yang sangat fundamental. Selain menjadi perekat umat dimana mereka bisa menebarkan kebajikan, masjid juga merupakan media bagi sang Muslim agar sukses dalam menjalin hubungan vertikal dengan Allah; melalui masjid, sang Muslim bisa melakukan mi'raj menuju Ilahi.

Dari masjid, kaum Muslimin bisa belajar-mengajar, keimanan seseorang tergambar, tingkat keberagamaan masyarakat terpancar, ketenangan dan kedamaian berbinar-binar, dan kebangkitan umat mengakar.

Seorang Muslim pasti akan prihatin dan sedih manakala menjumpai seseorang yang dengan seenaknya mengotori masjid dan membiarkan kotoran (sampah) berserakan. Juga tidak layak dipandang ketika kita membiarkan bau tak sedap bercokol di tempat wudhu, toilet, atau kamar mandi masjid, sehingga aromanya menyebar dan dihirup orang-orang yang shalat, membaca Alquran, iktikaf, atau ibadah lainnya.

Surga bagi pembersih masjid tinjauan hadist

Dengan demikian, kebersihan dan keasrian masjid jelas mendukung kekhusyukan kaum Muslimin dalam beribadah. Maka, sangat pantas kalau Allah dan Rasul-Nya memberikan pahala yang besar bagi mereka yang membersihkan masjid—sebagaimana tersimbul dalam riwayat di atas. Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,” (HR Ibnu Majah).

Zaman memang sudah berubah dan modern, sehingga masjid-masjid membutuhkan kepengurusan. Namun, membersihkan masjid tentu saja bukan monopoli mereka yang tua. Generasi muda yang Islami sangatlah diharapkan ikut memakmurkan syiar-syiar Islam. Bukankah di tangan merekalah kelak kemajuan Islam bertumpu.

Niat mantap dan ikhlas karena Allah untuk memakmurkan masjid

Selama mempunyai niat yang ikhlas dan mantap, banyak jalan kebaikan terbuka menuju rahmat dan karunia Allah. Siapa pun punya peluang yang sama untuk mempersiapkan bangunan di surga, yakni dengan membangun mesjid, membersihkannya, serta memakmurkannya.

Dekat dengan rumah Allah akan memberikan kesejukan iman dan gairah untuk beribadah yang tak pernah mati ..

sebagaimana firman Allah subhana wa Ta'ala dalam surat At Taubah ayat 18

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

Senin, 15 Februari 2016

Masuk Surga Karena Tidak Pernah Iri Dengki

Kisah ini terjadi saat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam masih berada di tengah tengah sahabat. Bercerita mengenai satu sosok penghuni surga yang masuk surga dikarenakan tidak ada hasad atau dengki dan iri di dalam hatinya kepada para tetangga atau orang yang ada di sekitarnya. Dan seperti kita tahu bahwa iri dengki itu adalah sumber penyakit ain.
Kisah ini terjadi saat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam masih berada di tengah tengah sahabat. Bercerita mengenai satu sosok penghuni surga yang masuk surga dikarenakan tidak ada hasad atau dengki dan iri di dalam hatinya kepada para tetangga atau orang yang ada di sekitarnya. Dan seperti kita tahu bahwa iri dengki itu adalah sumber penyakit ain.



Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’

Seorang lelaki dari Anshar

Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal...

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’

Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’

Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Abdullah bin Amr bin Ashijin menginap di rumah lelaki tersebut

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu. Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Tidak punya rasa iri

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Minggu, 14 Februari 2016

Kisah Taubatnya Seorang Wanita Penggoda

Taubatnya Seorang Wanita Penggoda ini adalah menceritakan sebuah kisah dimana seorang wanita yang disewa oleh beberapa orang jahil unutk menggoda seorang alim dan termasuk golongan tabi'in yaitu Rabi' bin Khaitsam. Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk.

Kealiman Rabi’ bin Khaitsam

Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya,.....
Taubatnya Seorang Wanita Penggoda ini adalah menceritakan sebuah kisah dimana seorang wanita yang disewa oleh beberapa orang jahil unutk menggoda seorang alim dan termasuk golongan tabi'in yaitu Rabi' bin Khaitsam. Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk.


“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”

Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.

Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.

Sekelompok orang yang dengki

Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.

Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.

Wanita itu datang menggoda Rabi’ bin Khaitsam

Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.

Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam.

Ia menyapa Rabi’, “Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”

“Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.

“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir.

Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.

Rabi’ bin Khaitsam menasehati wanita itu

Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu,

“Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!

“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini?!

“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”

Akhirnya wanita penggoda itu bertaubat

Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.

Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat.

Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat!”

Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa.

Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir.

Sabtu, 13 Februari 2016

Ketika Kaya Membuat Lupa - Kisah Tsa labah

Kisah hikmah dibawah ini adalah bercerita tentang seseorang yang hidup pada jaman Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dia mempunyai nama Tsalabah, karena hidupnya yang amat miskin, dia datang pada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sambil mengadukan tekanan ekonomi yg dialaminya. Memohon Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.

Semula Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya”. Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun pertenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat berjama'ah bersama Rasul dan dengan para sahabat yang lainnya.
Kisah hikmah dibawah ini adalah bercerita tentang seseorang yang hidup pada jaman Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dia mempunyai nama Tsalabah, karena hidupnya yang amat miskin, dia datang pada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sambil mengadukan tekanan ekonomi yg dialaminya. Memohon Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.


Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah mengurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!" Nabi murka, dan Allah pun murka!

Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78

75Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
76Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
77Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.
78Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib.

Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi saw menolaknya, "Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu.

Setelah Nabi saw wafat, Tsa'labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar. tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.

Dimanakah Ts'alabah sekarang?
Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.

Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis/berniaga tak lagi sempat untuk berjihad dijalan-nya. Bukankah dengan alasan ada, alasan ada, alasan ada "berbanyak-banyak alasan" kita lupakan perintah Allah dan Rasulnya kita lupa dengan ayat yang berbunyi Sami'na Wa atho'na (baca tentang taat secara totalitas). Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan menarik zakat/infak kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa kok orang-orang mau enaknya saja mengambil zakat/infak, sedekah tanpa harus kerja keras.

Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan "mazhab"-nya masih kita ikuti...

Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad saw (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufik ismail),
"Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan, "kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu!

Na'udzubillah...

Rabu, 10 Februari 2016

Kisah Orang Yang Terzalimi dan Teraniaya

Kisah Hikmah dibawah ini menceritakan seorang sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang didzalimi orang lain. Dan ketika dia berdoa kepada Allah maka Allah langsung menurunkan adzab kepada orang yang mendzalimi sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Inilah bukti bahwa doa orang yang terzalimi tiada hijab dengan Allah azza wa jalla.
Kisah Hikmah dibawah ini menceritakan seorang sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang didzalimi orang lain. Dan ketika dia berdoa kepada Allah maka Allah langsung menurunkan adzab kepada orang yang mendzalimi sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Inilah bukti bahwa doa orang yang terzalimi tiada hijab dengan Allah azza wa jalla.



Umar bin al-Khattab (Amirul Mu’minin) pernah meng-amanahi Sa’ad bin Abi Waqash jabatan gubernur Irak, sebuah wilayah besar dan penuh gejolak. Sa'ad bin Abi Waqas bekerja membangun kota Kufah. Ia menetap di sana bersama para sahabatnya. Di tengah itu semua, suatu peristiwa ganjil terjadi. Sekelompok penduduk Kufah mengadukan Sa’ad kepada Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab radhhiyallahu ‘anhuma terkait kasus yang amat ganjil. Mereka menuduh Sa’ad sebagai "tidak tahu tata cara shalat yang benar."

Sa'ad bin Abi Waqas di fitnah

Subhanallah, salah seorang di antara sepuluh sahabat yang telah dijamin sorga tidak tahu tata cara shalat yang benar? Alangkah keji tuduhan mereka!

Umar ibn Khattab, dengan segala kecerdasan dan kepiawaian, serta pengetahuannya tentang sosok Sa'ad; tahu benar bahwa hal itu adalah dusta belaka. Tetapi karena posisinya sebagai Amirul Mu'minin, maka ia tetap berkewajiban untuk mengkonfirmasi tuduhan tersebut.

Umar kemudian mengirim surat kepada Sa'ad, bertanya dengan lemah lembut: “Wahai Abu Ishaq (kunyah Sa’ad), sekelompok penduduk Kufah menganggap engkau tidak menguasai tata cara shalat dengan baik.”

Sa’ad membalas surat itu: “Demi Allah, sungguh aku memimpin shalat mereka sebagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku tidak menyimpang daripadanya. Aku shalat Isya dengan memanjangkan dua raka'at pertama, lalu memendekkan dua raka'at terakhir.”

Umar balik membalas: "Begitulah yang kami sangkakan kepadamu, wahai Abu Ishaq". Akan tetapi, untuk lebih jelasnya, Umar mengutus seseorang untuk bertanya langsung kepada penduduk Kufah tentang Sa'ad. Tidak satu mesjid pun kecuali ia masuki dan bertanya. Hasilnya, mereka semua memuji Sa’ad, sampai orang itu memasuki masjid Bani ‘Abs. Seseorang di antara mereka yang bernama Usamah ibn Qatadah seraya berdiri, berkata: "Kalau engkau bertanya kepada kami tentang Sa’ad, maka sesungguhnya dia itu tidak mau memimpin pasukan kompi, tidak membagi jatah secara merata, dan tidak adil dalam memutuskan suatu perkara”.

Subhanallah, mungkinkah hal seperti itu bisa terjadi pada pribadi yang pernah ditebus oleh Rasululullah dengan kedua orang tuanya, dan menggembirakannya dengan surga? Alangkah keji kezaliman dan aniaya yang mereka lakukan.

Doa Sa'ad bin Abi Waqas dikabulkan oleh Allah

Mendengarkan tuduhan seperti itu, Sa'ad hanya berkata: "Demi Allah, saya akan berdoa kepada Allah atas orang itu tiga hal.

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً, فَأَطِلْ عُمْرَهُ, وَأَطِلْ فَقْرَهُ, وَعَرِّضْهُ بِالْفِتَنِ
Ya Allah, jika hambamu tersebut dusta, ia berdiri karena pamer dan mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikan dia papa dalam masa yang lama, dan jerumuskan dia dalam berbagai fitnah."

Allah mengabulkan doa Sa’ad. Demikianlah sehingga kelak, setiap kali orang tersebut ditanya atas derita dan kehidupannya yang malang, ia hanya bisa menjawab: "Aku adalah orang tua yang terjerumus dalam banyak fitnah. Aku ditimpa akibat doa Sa'ad". (HR. Bukhari Nomor 713)

Sabtu, 14 November 2015

Gara Gara Memetik Sebuah Apel

Anda tentu sudah mengenal nama Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, salah seorang ulama besar, dan termasuk salah satu dari imam empat mazhab. Dibawah ini ada kisah menarik, yang berkaitan dengan beliau, tetapi kisah ini bermula di saat beliau belum lahir.

Pada abad pertama hijiriah, terdapat seorang pemuda yang mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu syar’i, tetapi ia sangat miskin. Suatu hari ketika ia merasa sangat lapar dan tidak mendapatkan sesuatu apapun yang bisa dimakan. Ia berusaha mencari makanan di luar rumahnya. Kemudian, ia berhenti di salah satu kebun yang penuh dengan pepohonan apel, yang salah satu rantingnya menjulur ke jalan. Karena sangat lapar, ia terdorong untuk memakan apel tersebut, apalagi ia merasa perlu untuk mempertahankan raganya. Ia juga berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya, disamping ia juga merasa bahwa kebun tersebut tidak akan berkurang dengan sebab satu biji apel saja. Maka, ia beranikan diri untuk memetik satu buah apel dan memakannya hingga rasa laparnya hilang.

Gara Gara Memetik Sebuah Apel

Rabu, 23 September 2015

Haji Mabrur Penjual Sepatu

Kisah ini diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar. Edisi Inggrisnya berjudul “Muslim Saints and Mystics: Episodes from the Tadhkirat al-Auliya (Memorial of the Saints).” Dia adalah Abdullah bin al-Mubarak. Karena beliau ini kaya, ia termasuk orang yang selalu menunaikan ibadah haji dan jihad di jalan Allah. Tahun ini naik haji dan tahun berikutnya berangkat berjihad. Demikianlah secara selang-seling selalu dilakukannya betapapun sibuk menderanya.

Haji Mabrur Penjual Sepatu

Rabu, 16 September 2015

Dua Umar Dan Gempa Bumi

Sebuah kisah , suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (berbuatlah supaya Allah ridha kepada kalian)!"...

Dua Umar Dan Gempa Bumi

Senin, 27 Juli 2015

tetap bersyukur dan rendah hati

Pesan dari Orang yang bijak:

Sewaktu di tanya apakah yang paling membingungkan di dunia ini..??

Beliau menjawab : Manusia

Karna dia mengabaikan kesehatannya Hanya "demi uang"

lalu dia mengorbankan uangnya Demi "kesehatan"

Lalu dia "sangat khawatir"

Dengan"masa depannya"

Sampai dia "tidak menikmati masa kini"

Akhirnya dia"tidak hidup di masa depan ataupun di masa kini"

Dia "hidup seakan akan tidak akan mati"

Lalu dia " mati " tanpa benar2 menikmati apa itu hidup.





Bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati. Karna kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.

Ketika lahir dua tangan kita kosong..

Ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..

Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa2..

Jangan sombong karna kaya dan berkedudukan..

Jangan minder karna miskin dan hina..

Bukankah kita semua hanya tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman..

Tetaplah rendah hati seberapapun tinggi kedudukan kita..

Tetaplah percaya diri seberapapun kekurangan kita..

Karna kita hadir tidak membawa apa2 dan kembali juga tidak membawa apa2..

Hanya pahala kebajikan dan dosa kejahatan yang dapat kita bawa.

Datang ditemani oleh tangis..

Pergi juga ditemani oleh tangis..

Maka dari itu tetaplah bersyukur dalam segala keadaan apapun.

Dan hiduplah di saat yang benar2 ada dan nyata untuk kita.
Yaitu, saat ini.

Bukan bayang2 masa lalu maupun mencemaskan masa datang yang belum lagi tiba.

Semoga Bermanfaat

Minggu, 26 Juli 2015

rahasia khusyuk dalam sholat

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk. Pada suatu hari, Isam menghadiri majelis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?"
Hatim berkata: "Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu 'lahir dan batin.
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu 'lahir dan batin itu?"
Hatim berkata, "Wudhu 'lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh hal:





Sabtu, 25 Juli 2015

Bilal Muadzin Pertama Yang Selalu Bersuci

Bilal bin Robah pada mulanya adalah budak Umayyah Bin Kholaf, salah seorang bangsawan Makkah. Sebagai keturunan Afrika, Bilal mewarisi warna kulit hitam, rambut keriting, dan postur tubuh yang tinggi, khas Habasyah (Ethiopia).

Karena masuknya ke agama Islam diketahui tuannya, Bilal disiksa dengan amat kejam, sehingga mengundang reaksi dari Abu Bakar Ra. yang kemudian membebaskannya dengan sejumlah tebusan. Dengan adanya tebusan ini, Bilal mendapat sebutan Maula Abu Bakar, atau orang yang dibeli untuk bebas oleh Abu Bakar, bukan untuk dijadikan budak kembali.



Orang yang pertama kali menampakkan keislamannya adalah Rasulullah SAW, Kemudian Abu Bakar, Ammar dan Ibunya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad. Rasulullah SAW dilindungi oleh pamannya, dan Abu Bakar dibela oleh sukunya. Ada pun yang lainnya, orang orang musyrik dengan bengisnya menyiksa mereka. Antara lain dengan memakaikan baju besi di bawah terik matahari.

Dari semua itu, yang paling terhinakan adalah Bilal, karena paling lemah posisinya di tengah tengah masyarakat kaum Quraisy. Orang orang musyrik itu menyerahkan Bilal ke anak anak untuk diarak beramai ramai di jalan jalan Mekkah. Namun Bilal tetap tegar dengan selalu menyatakan, "Ahad... Ahad..."

Bilal mendapat pendidikan zuhud langsung dari Rasulullah SAW. Pada suatu ketiak Rasulullah datang kepada Bilal yang disisinya ada seonggok kurma. Rasulullah bertanya untuk apa ini, Bilal?"

Bilal menjawab, "Ya Rasulullah aku mengumpulkanna sedikit demi sedikit untukmu, dan juga untuk tamu tamu yang datang kepadamu."

Rasulullah pun menjawabnya, "Apakah kamu tak mengira itu mengandung asap neraka? Infakkanlah, jangan takut tidak mendapat jatah dari Pemilik Arsy.

Pada suatu pagi Rasulullah memanggil Bilal, "Ya Bilal, dengan apa kamu mendahuluiku masuk syurga? Aku mendengar gemerisikmu di depanku. Aku ditiap malam mendengar gemerisikmu."

Jawab Bilal "Aku setiap berhadats langsung berwudhu dan sholat dua raka'at."

Sabda Rasulullah SAW, "Ya Dengan Itu."
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah Ayat : 6)
Ketika Rasulullah SAW wafat dan belum dikubur, Bilal pun mengumandangkan adzan dengan suaranya yang merdu. Saat Bilal menyeru: Asyhadu anna Muhammmadar Rasulullah, orang orang yang ada di masjid menangis.

Kemudian tatkala Rasulullah SAW, telah selesai dikubur Abu Bakar berkata, "Adzanlah wahai Bilal."

Bilal menjawab, "Kalau engkau dulu membebaskanku demi kepentinganmu, aku akan laksanakan.

Tapi demi Allah, maka biarkan aku memilih kemauanku."

Abu Bakar berkata, "Aku membebaskanmu hanya demi Allah."

Bilal berkata, "Sungguh aku tidak ingin adzan untuk seorangpun sepeninggal Rasulullah."

Kata Abu Bakar, "Kalau begitu terserah kamu."

Bilal wafat pada tahun 20H, dalam usia 60 tahun.

Minggu, 05 Juli 2015

Pemuda yang minta izin ber-zina kepada Rasulullah

Ini salah satu contoh dimana Rasulullah melakukan ruqyah kepada seorang pemuda yang tidak dapat mengendalikan nafsunya sampai pemuda itu akhirnya meminta izin kepada Rasulullah untuk melkukan zina.

Dari Abu Umamah telah berkata : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’

Pemuda yang minta izin ber-zina kepada Rasulullah




Saat itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!(isyarat membentak)’ Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat.

‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat.

Sabtu, 04 Juli 2015

Dan Malaikat pun Melayat Kematian Orang Yang Bertaubat

Ketika mereka menemukan Rasulullah SAW tengah melakukan sholat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Dan tatkala Tsa'labah mendengan bacaan Nabi SAW, dia tersungkur pingsan.

Setelah Nabi SAW, mengucap salam, belia bersabda, "Wahai Umar dan Salman, apa yang telah kau lakukan kepada Tsa'labah?
halaman ini sambungan dari: Taubat nya salah seorang sahabat Rasulullah dari zina mata
Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah SAW!"

Maka Rasulullah berdiri an menggerak-gerakkan Tsa'labah yang membuatnya segera tersadar dari pingsan. Rasulullah bertanya: "Mengapa engkau menghilang dari ku?" Tsa'labah menjawab, "Dosaku ya Rasulullah!"
Dan Malaikat pun Melayat Kematian Orang Yang Bertaubat



 Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa dosa dan kesalahan-kesalahan?"

"Benar, wahai Rasulullah."

Rasulullah SAW bersabda, "

"rabbanaa aatinaa fii alddunyaa hasanatan wafii al-aakhirati hasanatan waqinaa 'adzaaba alnnaari "

"Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah Ayat : 201)

Tsa'labah berkata, "Dosaku wahai Rasulullah, sangatlah besar"
Beliau bersabda, "Akan tetapi Kalamullah lebih besar."
"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl Ayat : 119)
Kemudian Rasulullah SAW menyuruh Tsa'labah agar pulang ke rumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama 8 hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah SAW dan mengabarkan tentang sakitnya Tsa'labah.

Maka Rasulullah SAW pun datang menjenguk Tsa'labah dan meletakkan kepala Tsa'labah ke pangkauan-nya. Akan tetapi Tsa'labah menjauhkan kepalanya dari pangkuan Rasulullah. Rasulullah SAW pun bertanya, "Wahai Tsa'labah mengapa engkau menjauhkan kepalamu?" tanya Rasulullah SAW.

"Karena aku penuh dengan dosa," jawab Tsa'labah.
Beliau bertanya lagi,"Bagaimana yang kau rasakan?"
"Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging dan kulitku," jawab Tsa'labah.
Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?"
"Ampunan Tuhanku." jawabnya
Maka turunlah Jibril AS dan berkata, "Wahai Muhammad, Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu, dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunah sepenuh itu pula."

Maka ketika Rasulullah SAW memberitahukan ini kepada Tsa'labah, terpekik lah dia dan langsung meninggal. Lalu Rasulullah segera memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika selesai menyolatkan, Rasulullah SAW berjalan sambil berjingkat jingkat.

Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat?"

Beliau bersabda, "Demi Dzat yang telah mengutus Aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa'labah."
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar Ayat : 53)
 

Taubat nya salah seorang sahabat Rasulullah dari zina mata

Ini adalah kisah dari seorang sahabat Rasulullah SAW yang mulia, sorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman yang pada saat itu baru saja masuk islam. Beliau dalam riwayatnya sangat setia melayani Rasullulah SAW dan cekatan dalam bekerja.

Pada suatu ketika Rasulullah SAW mengutus nya untuk suatu keperluan, dan dalam perjalananya saat melewati salah satu pemukiman, beliau tidak sengaja melihat seorang perempuan sedang mandi.

Tsa'labah yang begitu takutnya nanti akan turun wahyu dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW berkenaaan dengan perbuatannya yang tercela itu, maka dia langsung kabur melarikan diri ke arah sebuah gunung yang berada antara mekkah dan madinah.

Taubat nya salah seorang sahabat Rasulullah dari zina mata



Selama 40 hari Rasulullah SAW kehilangan Tsa'labah. Lalu Jibril AS turun menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Muhammad, Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam dan berfirman kepadamu,"Sesungguhnya seorang laki laki dari umatmu berada di sebuah gunung sedang memohon perlindungan kepada-Ku."

Kemudian Nabi SAW berkata kepada sahabatnya Salman dan Umar untuk mencari Tsa'labah dan membawanya ke hadapan beliau.

Kamis, 02 Juli 2015

ketika Abu Hurairah bertaubat setelah mengeluarkan fatwa

Anda pasti tahu Abu Hurairah Ra kan? Beliau perawi hadist yang mempunyai daya ingat luar biasa. Beliau meninggalkan warisan yang sangat berharga pada masa kehidupannya. Ada sekitar 5300 an hadist. Imam Bukhari berkata, " Sekitar delapan ratus orang dari kalangan sahabat, tabi'in dan orang orang yang berilmu yang meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah.

Tapi kisah dibawah ini merupakan contoh dari Allah SWT bahwa berapapun besar dosa seseorang, jangan lah kita mencap orang tersebut tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertaubat. Karena sesungguhnya Allah itu Maha Pemberi Ampunan. Demikian kisahnya yang kami rangkai dari berbagai sumber:

ketika Abu Hurairah bertaubat setelah mengeluarkan fatwa



Pada suatu malam setelah shalat isya bersama Rasulullah SAW, Abu Hurairah keluar. Tiba tiba di hadapannya ada seorang wanita bercadar yang sedang berdiri ditengah jalan seraya berkata, "wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?"

"Apa dosamu itu?" kata Abu Hurairah, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil perzinaan itu."

Minggu, 14 Juni 2015

perempuan yang pertama kali masuk surga

“Maka wanita yang sholihah adalah yang taat, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa’:34)

Wanita shalihah adalah idaman setiap orang. Harta yang paling berharga, sebaik-baik perhiasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Dunia seluruhnya adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.”


perempuan yang pertama kali masuk surga



Dibawah ini adalah kisah tentang sesosok wanita yang pertama kali masuk Surga-Nya Allah:

Pada suatu hari, Fathimah Radhiyallahu ‘anha (RA) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah perempuan yang akan masuk surga pertama kali. Rasulullah menjawab, ”Seorang wanita yang bernama Mutiah.”

Kamis, 11 Juni 2015

Pohon saksi hidup kebesaran Rasulullah

Tahukan anda sahabat dengan pohon sahabi? pohon ini dijuluki "satu satunya sahabat Rasulullah yang masih hidup atau "The Only Living Sahabi"  

Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira (arab: Buhaira). Telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintah Yordania. ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives.
Mereka menemukan referensi dari teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi Berada di wilayah padang pasir diutara Yordania.
Setelah 1400 tahun berlalu, pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania.
the only living sahabi




Bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi mengadakan pengamatan dan ternyata benar bhw pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.

sosok wanita yang selalu berbicara dengan ayat suci Al Quran

Di antara penyempurnaan penghormatan Allah dalam menjaga kitab suci-Nya adalah dengan menjadi dari hamba-hamba-Nya yang hafal al-Qur'an. Sungguh itu merupakan sebuah kehormatan yang tidak ada bandingannya bagi manusia di dunia ini. Di mana dengan sifat itu seorang hamba yang fakir dan lemah menjadi keluarga dan orang-orang pilihan-Nya. Keluarga dan orang-orang pilihan-Nya itu tent lebih patut memperoleh rahmat, pemaafan, cinta dan dekat dengan-Nya tabaroka wata'alaa.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Rasulullah saw ia berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki 'keluarga' di antara manusia sekalian." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Mereka adalah ahlul qur'an dan orang-orang pilihan-Nya." (HR. Ibnu Majah)

sosok wanita yang selalu berbicara dengan ayat suci Al Quran


Dibawah ini ada kisah inspiratif dimana ada seorang wanita tua yang selalu berbicara dengan menggunakan ayat ayat suci Al Quran:

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :

Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat....

Penciptaan Jibril yang mulia

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits dengan isnad shahih bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam berkata mengenai Jibril,
“aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi”

Ketika menerangkan tentang Jibril ini, Allah berfirman
“Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah firman Allah yang (dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai Arsy yang tinggi derajat, dipatuhi lagi dipercaya (At-Takwir: 19-21)

Yang dimaksud dengan “utusan mulia” disini adalah Jibril, sedangkan “Pemilik Singasana” adalah Rabul’izzah (Allah).

Telah bersabda Rasulullah S.A.W bahwa, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat Jibrail dengan bentuk yang sangat elok. Jibril mempunyai 600 sayap dan di antara sayap-sayap itu terdapat dua sayap yang berwarna hijau seperti sayap burung merak, sayap itu antara timur dan barat. Jika Jibrail menebarkan hanya satu daripada beberapa sayap yang dimilikinya, maka ia sudah cukup untuk menutup dunia ini”.
Penciptaan Jibril yang mulia



Artikel Terbaru