Minggu, 20 September 2015

Sami'na Wa Atho'na Terhadap Sunnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Tinggalkanlah apa yang aku biarkan untuk kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan pertanyaan dan penentangan mereka terhadap para nabi mereka. Karenanya apabila aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah ia dan juka aku memerintahkan kepada kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah ia menurut kemampuan kalian." [HR. Bukhari dan Muslim]
Sami'na Wa Atho'na Terhadap Sunnah

Sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat antusias terhadap ilmu dan mengenal Sunnah. Mereka terekadang bertanya kepada Nabi tentang perkara yang tidak haram hukumnya kemudian menjadi haram karena pertanyaan mereka.

Terkadang menanyakan sesuatu yang tidak wajib hukumnya, lalu menjadi wajib karena pertanyaan mereka. Karenanya Nabi memerintahkan mereka agar membiarkan sesuatu yang dibiarkan oleh Beliau selama Beliau tidak memerintahkan dan melarangnya.

Beliau menyuruh para shahabat agar bersikap demikian, karena umat-umat sebelum umat Beliau banyak bertanya kepada para nabinya, lalu nabi mereka memberikan jawaban yang mempersempit perkara mereka. Sebagaimana mereka mempersempit atas diri mereka sendiri, kemudian mereka melakukan penentangan kepada para nabi mereka, maka binasalah mereka.

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bani Israil ketika mereka berselisih tentang orang yang terbunuh di antara mereka. Masing-masing suku mengklaim bahwa yang membunuh adalah suku yang lain. Lalu mereka melaporkan perkara tersebut kepada Nabi mereka yaitu Musa ‘alaihis salam.

Maka Allah memerintahkan kepada mereka agar menyembelih seekor sapi. Berikutnya mengambil sebagian anggota badan sapi untuk dipukulkan kepada orang yang terbunuh. Kemudian dengan ijin Allah orang yang telah mati itu menjadi hidup untuk mengatakan siapa orang yang membunuhnya.

Namun ketika mereka diperintahkan agar menyembelih sapi, terlebih dahulu mereka memberikan sanggahan dan banyak mempertanyakan seputar sapi hingga hal ini mempersulit diri mereka sendiri.

Demikian ini karena mereka tidak punya sifat sami’na waatho’na (mendengar dan taat) terhadap perintah Allah. Sebab mereka sombong dan lebih mendahulukan akal mereka daripada dalil. Berita ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalan Al Quran pada Surat Al Baqarah: 67 – 73.

Bagian dari kejadian ini adalah suatu kejadian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka hajilah kalian.” Lalu ada seseorang berkata “apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” Belliau diam. Berikutnya dia mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka Beliau bersabda:

“Kalau aku menjawab: Ya, tentu kalian tidak mampu menunaikannya. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan pertanyaan dan pertentangan mereka terhadap para nabi mereka. Karenanya apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah ia …” [HR. Muslim].

Ini merupakan bagian dari mempersempit perkara. Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seyogyanya tidak menanyakan sesuatu yang didiamkan oleh beliau. Karena pada masa beliau adalah masa penetapan hukum, yang terkadang hukum itu bertambah atau berkurang.

Adapun setelah wahyu turun dengan sempurna, hukum-hukum agama telah kokoh, tidak berubah dengan bertambah atau berkurang. Maka hendaklah seseorang bertanya tentang segala sesuatu yang diperlukannya. Karena hukum-hukum sudah tidak ada perubahan lagi.

Sebagian orang mempunyai pemahaman yang salah terhadap hadits tersebut dan firman Allah ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu …” [QS. al Maidah: 101].

Ketika mereka menemukan perkara-perkara yang belum diketahui hukum-hukumnya, mereka tidak mau menanyakannya kepada ahlinya karena beralasan dengan dalil-dalil tersebut. Lalu mereka melakukannya tanpa mengetahui hukumnya, sehingga mereka melakukan yang haram (karena dikira wajib) dan meninggalkan perkara yang wajib (karena dikira haram). Serta setan menghiasi untuknya bahwa perbuatannya itu sebagai kebenaran. Wal iyaadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu).

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui”. [QS. An Nahl: 43 dan QS. Al Anbiya: 7]

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Karenanya apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah ia dan jika aku memerintahkan kepada kalian dengan sesuatu perintah, maka lakukanlah ia menurut kemampuan kalian.”

Setiap muslim wajib menjauhi setia larangan agama tanpa dilandasi dengan menurut kesanggupan, karena larangan adalah meninggalkan dan tidak mengandung kesulitan. Berbeda dengan melakuan perintah. Ia dilandasi dengan menurut kesanggupan karena menjalankan perintah adalah mengadakan sesuatu dan mengandung kesulitan.

Selain itu bahwa menjauhi setiap larangan dilandasi juga dengan hal lain, yaitu katika bukan darurat (terpaksa). Kalau keadaan darurat, maka larangan itu boleh dilakukan. Jika seserang tidak menemukan makanan untuk menyelamatkan kehidupannya kecuali yang haram, maka dalam kondisi ini yang haran itu menjadi halal baginya, Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” [QS. Al An’am: 119]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al An’am: 3]

Namun hal ini harus dikaitkan dengan dua perkara lagi, yaitu :

●Tidak mendatangkan bahaya yang sama
●Benar-benar meniadakan keadaan darurat

Contohnya ketika seseorang kelaparan tidak menemukan makanan kecuali yang haram. Jika dia memakannya, hilanglah rasa laparnya dan selamatlah hidupnya.

Adapun jika seseorang sedang sakit kemudian dia berobat dengan obat yang haram, misalnya minum zat yang najis atau haram dimakan dengan harapan bisa sembuh, maka demikian ini tidak benar. Sebab belum bisa dipastikan zat itu menjadi obat bagi penyakitnya. Sementara masih banyak alternatif obat yang halal, seperti do’a dan pembacaan Al Quran (ruqyah syar'iyyah) atau pengobatan nabawi atau obat-obat herbal dan kimia lainnya yang tidak mengandung unsur haram.

Setiap perintah harus dilakukan menurut kesanggupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” [QS. At Taghabun: 16]

Jika ada perintah agama dan seseorang tidak mampu menjalankannya, maka dia tidak wajib melakukannya. Seperti shalat lima waktu wajib dilakukan dengan berdiri. Jika tidak mampu dengan berdiri, maka shalat dengan duduk. Dan jika tidak mampu dengan duduk, maka shalat dengan berbaring.

Menjalankan perintah agama selain dilandasi dengan kondisi mampu, maka ia terkait dengan hal lain, yaitu selama tidak ada penghalang. Jika ada penghalang, maka hal ini mengikuti sabda beliau: “Maka lakukanlah perintah menurut kesanggupan kalian.”

Adapun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam diamkan, maka ia dimaafkan (boleh dilakukan) dan ini bagian dari rahmat dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dalam agama ini ada perkara yang diperintahkan, dilarang, dan didiamkan. Sesuatu yang tidak dibicarakan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak diperintahkan dan tidak dilarang melakukannya, maka kita tidak diharuskan melakukannya atau meninggalkannya. Artinya kita boleh melakukan atau meninggalkannya.
Wallahu a’lam.


by Ustadz Muhaimin
Sumber: Syarah Riyadhush Shalihin karya: Asy Syaikh Utsaimin rahimahullau ta’ala dan selainnya.
Kunjungi Konsultasi Ruqyah Gratiss via whatsapp, rahasia dari ruqyah syar'iyyah dan temukan berbagai kasus ruqyah yang berhasil di sembuhkan di artikel Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ruqyah Syariyyah <---- Klik , siapa tau ada yang sesuai dengan kondisi yang anda alami. Kunci rangkaian penyembuhan untuk mengatasi berbagai gangguan baik penyakit fisik atau penyakit hati (non-medis) serta berbagai gangguan ghaib. Atau silahkan langsung kunjungi halaman Cara dan Aturan Konsultasi Ruqyah Syariyyah Athallah <--- Klik
  1. Tutorial Ruqyah Mandiri sebagai penyembuh dan pembersih diri dari gangguan ghaib, penyakit medis dan non medis <----- Klik Jika ingin membaca tutorialnya di web. Untuk ciri ciri terkena gangguan ghaib, gangguan jin, gangguan sihir atau ain bisa di lihat di Tanda atau ciri terkena gangguan jin, gangguan sihir atau penyakit ain
  2. Tuntunan sunnah untuk benteng diri agar gangguan itu tidak kembali muncul <---- Klik jika ingin membaca nya di web ini.
  3. Tutorial Ruqyah Rumah agar gangguan yang sudah dipaksa keluar dari badan juga keluar dari rumah tempat tinggal kita <---- Klik jika ingin membaca caranya di web
  4. Tuntunan sunnah menjadikan rumah dibenci setan dan jin sehingga jika sudah berhasil diusir dengan ruqyah rumah tidak kembali lagi masuk rumah. <---- Klik jika ingin membaca caranya di web ini.
  5. Memutar audio ruqyah rumah saat munculnya dua tanduk setan yaitu saat matahari terbit dan tenggelam, dimana pada dua waktu ini setan kekuatannya mejadi membesar. <---- Klik jika ingin mendapatkannya di web ini.
  6. Sesungguhnya Matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam di antara dua tanduk setan pula. (HR Abu Dawud dan Muslim)

    “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,” (HR. Muslim).

Untuk testimoni semua sahabat muslim yang sudah berhasil mengatasi gangguan yang dialami dengan ruqyah mandiri silahkan klik Testimonial. Disertai screen capture percakapan whatsapp.

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'araa Ayat : 109, QS. Asy-Syu'araa Ayat :127, QS. Asy-Syu'araa Ayat :145, QS. Asy-Syu'araa Ayat :164, QS. Asy-Syu'araa Ayat :180)
Kami juga menyediakan CD Ruqyah (untuk ruqyah rumah/toko) yang berisi audio ruqyah mandiri beserta tutorial ruqyah mandiri dan ruqyah rumah disertai bacaaan surah surah ruqyah dalam arabic, latin dan terjemahan. Disertai juga tutorial dan tuntunan sunnah untuk LGBT, penyakit sihir, penyakit fisik dan susah jodoh dalam bentuk PDF. Praktis bagi anda untuk terapi penyembuhan dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala dengan mendengarkan ayat ayat al quran yang berfungsi sebagai penyembuhan dan pembatal sihir serta penghilang gangguan jin dan ain. Untuk pemesanan dan info kunjungi post Mp3 dan CD ruqyah mandiri, Barokallahu fiikum..

Artikel Islam Lanjutan dan Daftar Isi Web Ini

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka adalah baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka adalah atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka” (HR. Muslim)

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Bagikan di media sosial yang anda ikuti dengan klik di tombol dibawah ini dan raih amal sholeh sebanyak banyak nya... InsyaAllah

Sami'na Wa Atho'na Terhadap Sunnah
4/ 5
Oleh
Mesin Pencari Athallah

Ketik topik atau pembahasan apa saja yang anda cari di internet menggunakan Athallah Search Engine dibawah ini. Caranya cukup ketikkan topik nya di kotak box dibawah, kemudian tekan enter. InsyaAllah bebas website porno dan spam

Artikel Terbaru