Senin, 08 Juni 2015

Menggapai keridhoan Allah kepada kita

Tahukah engkau kawan bahwa ujian itu adalah bentuk cinta Allah kepada kaumnya?
 Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Anas dari Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).” (HR. At-Tirmidzi no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146) 

menggapai keridhoan Allah




Keridhaan dalam menerima takdir ada dua bentuk.
Pertama, ridha dengan perbuatan Allah sekaligus mengandung ridha dengan yang ditakdirkan.
Kedua, ridha dengan perbuatan Allah, tapi tidak ridha dengan yang ditakdirkan.

Ridha dengan perbuatan Allah, membenarkan dan menerimanya, hukumnya wajib. Adapun ridha dengan sesuatu yang ditakdirkan, maka hukumnyamustahab (sunat menurut istilah fiqh), derajatnya lebih tinggi dari sabar.

Dari segi perbuatan yang mentakdirkan, maka wajib bagi seseorang untuk ridha dan bersabar. Adapun dari segi yang ditakdirkan, maka wajib baginya bersabar dan mustahab baginya ridha”. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 10/691).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa keridhoan terhadap hal tersebut –yakni perkara yang telah terjadi- hukumnya mustahab -bukan wajib-, karena Allah telah memuji orang-orang yang bersikap ridha dengan firman-Nya:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه
“Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah”

Allah hanya mewajibkan sabar dan memerintahkannya di berbagai ayat sementara tidak memerintahkan untuk ridha terhadap apa yang telah terjadi”. (Syaikhul Islam Rahimahullah dalam kitab Minhajus Sunnah 3/120)

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan: “Kedudukan manusia dalam menghadapi takdir ada tiga: Pertama, Keridhaan dan ini adalah kedudukan yang tertinggi. Kedua, kemarahan dan ini adalah kedudukan yang terendah. Ketiga, sabar tanpa disertai keridhaan adalah kedudukan pertengahan. Yang pertama adalah kedudukan Al-Muqarribin As-Sabiqin (orang-orang yang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan mustahab, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram dan makruh), yang kedua adalah kedudukan muqtashid (orang-orang yang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan meninggalkan perkara-perkara yang haram namun kurang dalam melakukan amalan-amalan yang mustahab, dan masih mengerjakan perkara-perkara yang makruh) sementara yang ketiga adalah kedudukan orang-orang yang zhalim. Banyak orang yang bisa bersabar atas takdir yang menimpanya, tidak marah namun tidak sampai meridhainya. Keridhaan adalah perkara yang lain (di luar kesabaran). (At-Tafsirul Qayyim 1/95).

Ibnul Katsir Rahimahullah mengatakan dalam tafsir firman Allah Ta’ala:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Alloh. Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberikan petunjuk ke hatinya” (QS. At-Taghabun {64} : 11)

Maksudnya: Barangsiapa yang tertimpa musibah, kemudian mengetahui bahwa hal tersebut terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah, maka dia bersabar, berharap pahala serta menerima ketentuan tersebut, maka Allah akan memberikan hidayah ke hatinya dan Allah ganti dunia yang luput darinya dengat petunjuk, keyakinan dan kejujuran di hatinya. Bisa juga apa yang luput tersebut Allah ganti kembali atau dengan yang lebih baik darinya”.

Syekh As-Sa’dy Rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: “Apabila dia beriman bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah, kemudian ridha dengan sebab itu serta menerima perintah-Nya, maka Allah akan memberi hidayah pada hatinya, sehingga dia bisa tenang dan tidak mencak-mencak ketika datang musibah sebagaimana yang terjadi pada orang-orang yang hatinya tidak Allah beri petunjuk. Bahkan Allah akan mengkaruniakan kekokohan ketika datangnya musibah dan kemampuan untuk melakukan tuntutan-tuntutan kesabaran. Walhasil dia mendapatkan balasan yang disegerakan serta pahala yang ditabung Allah baginya pada hari pembalasan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS. Az-Zumar {39} : 10)

Diketahui dari hal ini bahwasanya barangsiapa yang tidak beriman dengan Allah ketika datangnya musibah, dari sisi dia tidak memperhatikan ketetapan dan takdir Allah namun justru terfokus melihat semata-mata sebab, maka orang ini tidak akan ditolong dan Allah akan membebankan perkara tersebut pada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba membebankan perkara pada dirinya, maka yang ada pada jwa itu hanyalah keluh kesah dan kegelisahan yang merupakan azab yang disegerakan bagi hamba tersebut sebelum datangnya azab di akhirat atas kewajiban sabar yang ditinggalkannya”

Diatara do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan ini adalah:

أَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ
“Ya Allah, aku mohon ridha (dalam hatiku) sesudah keputusan-Mu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah-Mu dan kerinduan berjumpa dengan-Mu.” (HR. Ahmad 20678)

Yang mendorong seorang mukmin untuk ridha kepada takdir adalah untuk mengongokohkan keimanannya, semakna dengan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدِ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Allah tidaklah menetapkan bagi seorang mukmin suatu ketentuan melainkan itu baikk baginya. Hal ini tidaklah mungkin kita jumpai kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa suatu bahaya, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya (5/24) hadits no 19772, Ibnu Hibban dalam shahihnya (2/705) hadits no 728. Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih al Jami’ no 3985).

Orang yang ridha dengan musibah, merasa bahwa ada atau tidaknya musibah, sama saja. Keberadaannya tidak menyusahkannya, dan dia tidak merasa terbebani dengan beban yang berat. Namun demikian, bukan termasuk syarat ridha kalau seseorang tidak merasakan sakitnya.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan: “Bukanlah menjadi syarat ridha, seseorang tidak merasakan sakit atau sesuatu yang disenanginya. Akan tetapi yang menjadi syarat adalah, dia tidak memprotes terhadap hukum yang telah ditetapkan dan tidak marah. Karena itulah, sebagian orang merasa ganjil adanya keridhaan disertai dengan ketidaksenangan sehingga mereka mencela hal ini. Mereka mengatakan: “Perkara ini terhalang oleh tabiat. Yang ada hanyalah kesabaran, kalau tidak bagaimana bisa terkumpul keridhaan dan ketidaksenangan, sementara keduanya saling berlawanan”. Yang benar, tidak ada benturan antara keduanya, bahwasanya adanya rasa sakit dan ketidaksenangan di dalam hati tidak meniadakan ridha. Seperti ridhanya orang sakit untuk meminum obat, ridhanya orang yang puasa pada hari yang sangat panas, yang dia memperoleh sakit berupa lapar dan haus”. (Madarijus Salikin 2/175).
Kunjungi Konsultasi Ruqyah Gratiss via whatsapp, rahasia dari ruqyah syar'iyyah dan temukan berbagai kasus ruqyah yang berhasil di sembuhkan di artikel Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ruqyah Syariyyah <---- Klik , siapa tau ada yang sesuai dengan kondisi yang anda alami. Kunci rangkaian penyembuhan untuk mengatasi berbagai gangguan baik penyakit fisik atau penyakit hati (non-medis) serta berbagai gangguan ghaib. Atau silahkan langsung kunjungi halaman Cara dan Aturan Konsultasi Ruqyah Syariyyah Athallah <--- Klik
  1. Tutorial Ruqyah Mandiri sebagai penyembuh dan pembersih diri dari gangguan ghaib, penyakit medis dan non medis <----- Klik Jika ingin membaca tutorialnya di web. Untuk ciri ciri terkena gangguan ghaib, gangguan jin, gangguan sihir atau ain bisa di lihat di Tanda atau ciri terkena gangguan jin, gangguan sihir atau penyakit ain
  2. Tuntunan sunnah untuk benteng diri agar gangguan itu tidak kembali muncul <---- Klik jika ingin membaca nya di web ini.
  3. Tutorial Ruqyah Rumah agar gangguan yang sudah dipaksa keluar dari badan juga keluar dari rumah tempat tinggal kita <---- Klik jika ingin membaca caranya di web
  4. Tuntunan sunnah menjadikan rumah dibenci setan dan jin sehingga jika sudah berhasil diusir dengan ruqyah rumah tidak kembali lagi masuk rumah. <---- Klik jika ingin membaca caranya di web ini.
  5. Memutar audio ruqyah rumah saat munculnya dua tanduk setan yaitu saat matahari terbit dan tenggelam, dimana pada dua waktu ini setan kekuatannya mejadi membesar. <---- Klik jika ingin mendapatkannya di web ini.
  6. Sesungguhnya Matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam di antara dua tanduk setan pula. (HR Abu Dawud dan Muslim)

    “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,” (HR. Muslim).

Untuk testimoni semua sahabat muslim yang sudah berhasil mengatasi gangguan yang dialami dengan ruqyah mandiri silahkan klik Testimonial. Disertai screen capture percakapan whatsapp.

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'araa Ayat : 109, QS. Asy-Syu'araa Ayat :127, QS. Asy-Syu'araa Ayat :145, QS. Asy-Syu'araa Ayat :164, QS. Asy-Syu'araa Ayat :180)
Kami juga menyediakan CD Ruqyah (untuk ruqyah rumah/toko) yang berisi audio ruqyah mandiri beserta tutorial ruqyah mandiri dan ruqyah rumah disertai bacaaan surah surah ruqyah dalam arabic, latin dan terjemahan. Disertai juga tutorial dan tuntunan sunnah untuk LGBT, penyakit sihir, penyakit fisik dan susah jodoh dalam bentuk PDF. Praktis bagi anda untuk terapi penyembuhan dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala dengan mendengarkan ayat ayat al quran yang berfungsi sebagai penyembuhan dan pembatal sihir serta penghilang gangguan jin dan ain. Untuk pemesanan dan info kunjungi post Mp3 dan CD ruqyah mandiri, Barokallahu fiikum..

Artikel Islam Lanjutan dan Daftar Isi Web Ini

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka adalah baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka adalah atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka” (HR. Muslim)

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Bagikan di media sosial yang anda ikuti dengan klik di tombol dibawah ini dan raih amal sholeh sebanyak banyak nya... InsyaAllah

Menggapai keridhoan Allah kepada kita
4/ 5
Oleh
Mesin Pencari Athallah

Ketik topik atau pembahasan apa saja yang anda cari di internet menggunakan Athallah Search Engine dibawah ini. Caranya cukup ketikkan topik nya di kotak box dibawah, kemudian tekan enter. InsyaAllah bebas website porno dan spam

Artikel Terbaru