Jumat, 22 Mei 2015

Menuju akhir kehidupan yang baik

Kematian, adalah salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun.
Menuju akhir kehidupan yang baik



وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ
“Dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami, dan malaikat- malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya”. (QS. Al-An’am {6} : 61)

Tumpukan harta, gemerlapnya dunia, dan kesibukan mencari materi sering melupakan kita akan kematian. Padahal kematian adalah suatu kepastian. Tak seorangpun yang bisa lepas darinya. Ke mana saja kita berlari, di mana kita sembunyi, dan di benteng mana kita berlindung tetaplah kematian pasti akan menemukan kita.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. Al-Jumu’ah {62} : 8)

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf {50} : 19)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’ {4} : 78)

Jangan sampai hendaknya kita termasuk ke dalam kelompok orang yang disebutkan oleh ayat berikut:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun {63} : 10-11).

Sungguh akhir dari kehidupan seorang hamba didunia ini adalah suatu perkara besar yang mendebarkan dan menakutkan, bagaimana tidak? Sebab setelah kehidupan dunia ini berakhir mungkin ia mendapatkan balasan pahala yang baik atau justru azab dan siksaan dan itu semua tergantung dari amalan penutupnya di dunia; kebaikan atau keburukan.
Sebagaimana disinyalir dalam hadits yang shahih :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيْم
"Segala amal perbuatan itu perhitungannya tergantung pada amal terakhirnya." (HR. Bukhari)

Betapa gundah dan gelisahnya hati seorang yang mukmin memikirkan itu, takut tetapi juga penuh pengharapan sehingga ia selalu dan tekun dalam beramal shalih, memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah diiringi dengan do’a agar ia diberi kekuatan dan kemantapan iman serta keistiqamah-an sampai akhir hayatnya, ia senantiasa bersemangat untuk selalu menjalankan wasiat Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar Takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali-Imran {3} : 102)

Memang demikianlah, kita harus senantiasa dalam kekhawatiran dan ketakutan, karena Abu 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anh berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“... maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, sesungguhnya ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga”. (HR. Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643)

“...sesungguhnya ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga”, secara tersurat menunjukkan bahwa orang tersebut melakukan amalan yang benar dan amal itu mendekatkan pelakunya ke surga sehingga dia hampir dapat masuk ke surga kurang satu hasta. Ia ternyata terhalang untuk memasukinya karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya di akhir masa hayatnya dengan melakukan perbuatan ahli neraka. Dengan demikian, perhitungan semua amal baik itu tergantung pada apa yang telah dilakukannya. Akan tetapi, bila ternyata pada akhirnya tertutup dengan amal buruk, maka seperti yang dikatakan pada sebuah hadits:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيْم
""Sesungguhnya amalnya itu tergantung penutupnya”. (HR. Bukhari)

Orang yang beramal ini amalnya benar dan ia sudah dekat dengan surga, karena sebab amalnya, hingga tinggal satu hasta lagi baginya untuk memasukinya. Dan yang menghalangi dirinya untuk memasukinya hanyalah takdir yang mendahuluinya yang tampak pada akhir kehidupannya.

Jadi, amalan itu sesuai ketentuan terdahulu. Tetapi karena ketentuan terdahulu itu tidak terlihat oleh kita, sedangkan penutupnya nyata, maka disebutkan dalam hadits, "Sesungguhnya amalnya itu tergantung penutupnya." Yakni, bila dinisbatkan pada pantauan kita tentang sebagian individu dan tentang sebagian perbuatan.

Jika demikian, apa hikmahnya Allah membiarkan orang yang beramal dengan amalan ahli surga ini sehingga jarak antara dirinya dengannya hanya satu hasta, tapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka?. Hikmahnya adalah bahwa orang yang beramal dengan amalan ahli surga tersebut hanyalah beramal dengan amalan ahli surga dalam apa yang terlihat oleh manusia. Jika tidak, maka ia sebenarnya memiliki amalan yang nista dan niat yang rusak. Niat yang rusak ini mendominasinya sehingga menutup kehidupannya dengan su'ul khatimah (kita berlindung kepada Allah dari hal itu). Atas dasar ini, maka yang dimaksud dengan sabdanya, "Sehingga jarak antara dirinya dengannya hanya sehasta," yakni dekat ajalnya, bukan kedekatannya pada surga dengan amalnya.

Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, padahal dia sebenarnya adalah penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, padahal dia sebenarnya adalah penghuni surga. Sungguh setiap amalan itu dihitung dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6012)

Nah, amalan baik yang diamalkan oleh penghuni neraka itu hanya lahiriahnya saja yang baik, akan tetapi hati orang tersebut bertentangan dengan amalannya, dimana kejelekan hatinya ini tidak diketahui oleh orang lain. Dan kejelekan hatinya inilah yang kemudian mendominasi dirinya, dan kejelekan hatinya ini muncul di akhir umurnya dengan dia melakukan kejelekan, sehingga dia akhirnya meninggal dengan su`ul khatimah. Sebaliknya, seorang penghuni surga terkadang melakukan banyak kejelekan akan tetapi sebenarnya di dalam hatinya ada suatu sifat kebaikan yang tidak diketahui oleh orang lain. Kemudian, sifat baik ini mendominasi dirinya dan baru muncul buahnya di akhir hidupnya dengan dia berbuat kebaikan. Sehingga dia akhirnya meninggal dengan husnul khatimah. (Iqazh Al-Himam Al-Muntaqa min Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam hal. 94)

Hadits ini termasuk hadits-hadits dalam masalah takdir yang wajib diterima dan dibenarkan, walaupun akal tidak bisa mencernanya karena kurangnya ilmu dan akal manusia. Yang jelas kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Maha Adil dan Maha Mengetahui. Dia tidak akan memasukkan ke dalam neraka orang yang tidak pantas masuk neraka dan tidak akan memasukkan ke dalam surga orang yang tidak pantas masuk ke dalam surga. Dan Dia lebih mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur kepada-Nya.

Intinya seorang muslim wajib beriman kepada takdir dan tidak larut mempertanyakan atau memperbincangkan takdir. Karena takdir adalah rahasia Allah dimana tidak ada seorangpun makhluk yang mengetahuinya. Dan sudah dimaklumi bersama bahwa membicarakan sesuatu yang tidak diketahui adalah pekerjaan yang buang-buang waktu dan tidak akan menghasilkan kebaikan apa-apa.

Di satu sisi merupakan kabar buruk dan di sisi lain merupakan kabar yang baik. Kabar buruk bagi siapa yang sudah terbiasa melakukan kejelekan dan kabar baik bagi siapa yang sudah terbiasa melakukan kebaikan. Karena sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan biasanya sulit untuk ditinggalkan dan akan selalu dia amalkan apapun yang terjadi. Karenanya, orang yang sudah terbiasa mengamalkan amalan jelek maka kemungkinan besar dia akan dihukum oleh Allah dengan su`ul khatimah atau meninggal di atas kejelekan, dan ini termasuk siksaan Allah yang terbesar di muka bumi ini. Sebaliknya, siapa saja yang sudah terbiasa melakukan suatu kebaikan maka besar kemungkinan dia juga akan mengakhiri hidupnya di atas kebaikan. Dan Allah Ta’ala akan membangkitkan setiap orang sesuai dengan keadaan ketika dia meninggal. Inilah hukum asalnya.

Dari Jabir radhiallahu anhuma dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat ia meninggal.” (HR. Muslim no. 2878)

Pelajaran penting lainnya dari hadits-hadits di atas adalah bahwa seorang pelaku maksiat tidak boleh berputus asa dengan banyaknya dosa yang telah dia perbuat. Karena sebesar apapun dosanya, yang menjadi penentu nasibnya di akhirat adalah amalan yang dia amalkan di akhir hidupnya. Dan sebaliknya setiap pelaku kebaikan tidak boleh bangga dan tertipu dengan banyaknya pahala yang telah dia dapatkan. Karena nasibnya di akhirat tidak ditentukan oleh pahala yang sudah dia kumpulkan, akan tetapi ditentukan oleh amalan yang dia kerjakan di akhir umurnya. Maka dengan beriman kepada takdir dengan keimanan yang benar, seseorang bisa menjaga hatinya antara selalu berharap kepada Allah dan selalu takut kepada Allah.

Baik buruknya seseorang belum dapat dipastikan sampai ia menyelesaikan hidupnya. Bisa saja orang yang banyak melakukan maksiat sempat bertaubat sebelum tiba saat menutup matanya. Sebaliknya, orang yang baik amalnya, bisa saja tergelincir dalam keburukan sebelum akhir hayatnya tanpa sempat menyesali perbuatannya. Seperti disebutkan dalam hadis berikut:

Anas bin Malik ra., ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَعْجَبُوا بِعَمَلِ أَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَا يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ دَهْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلا سَيِّئًا وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ لَوْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلا صَالِحًا فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ فَوَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ
“Janganlah kalian merasa kagum dengan amalan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya, sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal shalih, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan. Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal shalih. ‘Apabila Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, maka Dia memperkerjakannya?” Para sahabat bertanya, ‘Bagaimana Allah memperkerjakannya?’ Beliau menjawab, ”Allah memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum kematiannya.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, Imam al-Hakim menshahihkannya dalam al-Mustadrak. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Al-Shahihah, no. 1334)

Beberapa Hadits telah menetapkan larangan kepada seseorang yang tdak mau melakukan sesuatu amal dengan alasan telah ditetapkan taqdirnya. Bahkan, semua amal dan perintah yang tersebut dalam syari’at harus dikerjakan. Setiap orang akan diberi jalan yang mudah menuju kepada taqdir yang telah ditetapkan untuk dirinya. Orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang beruntung maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan yang beruntung sebaliknya orang-orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang celaka maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan celaka sebagaimana tersebut dalam Firman Allah :

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى
“Maka Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh keberuntungan”. (QS. Al-Lail {92} :7)

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
“Kemudian Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh kesusahan”. (QS. Al-Lail {92} : 10)

Para ulama berkata : “Al Qur’an, lembaran, dan penanya, semuanya wajib diimani begitu saja, tanpa mempersoalkan corak dan sifat dari benda-benda tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui”.

Allah berfirman:

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء
“Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”. (QS. Al Baqarah {2} : 255)

Kita pun mengetahui bagaimana kondisi keimanan dapat berubah-ubah sementara godaan dan ujian tak berhenti datang sampai maut memisahkan nyawa dari raga. Kita tidak bisa tenang sampai hidup kita ditutup dengan ketakwaan kepada-Nya. Dan, kita tidak boleh santai menunda-nunda taubat karena kematian bisa datang kapan saja.

Satu-satunya cara untuk meraih husnul khatimah ini adalah dengan menjaga keimanan dan ketakwaan kita sepanjang waktu. Perbanyak muhasabah diri, rendah hati dalam beramal, segera taubat bila bermaksiat, dan juga tak berhenti berdo’a kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, salah satunya do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!”. (HR. Muslim no. 2654).

atau
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَي دِيْنِك
“Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”. (HR. Tirmidzi: 3522, disahihkan oleh Syeikh Albani)

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; Karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran {3} : 8)

أَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الخَاتِمَةِ وَلاَ تَخْتِمْ لَنَا بِسُوْءِ الخَاتِمَةِ
“Ya Allah, akhirilah umur kami dengan sebaik-baik umur dan janganlah Engkau tutup umur kami dengan penghabisan yang buruk.”
Kunjungi Konsultasi Ruqyah Gratiss via whatsapp, rahasia dari ruqyah syar'iyyah dan temukan berbagai kasus ruqyah yang berhasil di sembuhkan di artikel Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ruqyah Syariyyah <---- Klik , siapa tau ada yang sesuai dengan kondisi yang anda alami. Kunci rangkaian penyembuhan untuk mengatasi berbagai gangguan baik penyakit fisik atau penyakit hati (non-medis) serta berbagai gangguan ghaib. Atau silahkan langsung kunjungi halaman Cara dan Aturan Konsultasi Ruqyah Syariyyah Athallah <--- Klik
  1. Tutorial Ruqyah Mandiri sebagai penyembuh dan pembersih diri dari gangguan ghaib, penyakit medis dan non medis <----- Klik Jika ingin membaca tutorialnya di web. Untuk ciri ciri terkena gangguan ghaib, gangguan jin, gangguan sihir atau ain bisa di lihat di Tanda atau ciri terkena gangguan jin, gangguan sihir atau penyakit ain
  2. Tuntunan sunnah untuk benteng diri agar gangguan itu tidak kembali muncul <---- Klik jika ingin membaca nya di web ini.
  3. Tutorial Ruqyah Rumah agar gangguan yang sudah dipaksa keluar dari badan juga keluar dari rumah tempat tinggal kita <---- Klik jika ingin membaca caranya di web
  4. Tuntunan sunnah menjadikan rumah dibenci setan dan jin sehingga jika sudah berhasil diusir dengan ruqyah rumah tidak kembali lagi masuk rumah. <---- Klik jika ingin membaca caranya di web ini.
  5. Memutar audio ruqyah rumah saat munculnya dua tanduk setan yaitu saat matahari terbit dan tenggelam, dimana pada dua waktu ini setan kekuatannya mejadi membesar. <---- Klik jika ingin mendapatkannya di web ini.
  6. Sesungguhnya Matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam di antara dua tanduk setan pula. (HR Abu Dawud dan Muslim)

    “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,” (HR. Muslim).

Untuk testimoni semua sahabat muslim yang sudah berhasil mengatasi gangguan yang dialami dengan ruqyah mandiri silahkan klik Testimonial. Disertai screen capture percakapan whatsapp.

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'araa Ayat : 109, QS. Asy-Syu'araa Ayat :127, QS. Asy-Syu'araa Ayat :145, QS. Asy-Syu'araa Ayat :164, QS. Asy-Syu'araa Ayat :180)
Kami juga menyediakan CD Ruqyah (untuk ruqyah rumah/toko) yang berisi audio ruqyah mandiri beserta tutorial ruqyah mandiri dan ruqyah rumah disertai bacaaan surah surah ruqyah dalam arabic, latin dan terjemahan. Disertai juga tutorial dan tuntunan sunnah untuk LGBT, penyakit sihir, penyakit fisik dan susah jodoh dalam bentuk PDF. Praktis bagi anda untuk terapi penyembuhan dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala dengan mendengarkan ayat ayat al quran yang berfungsi sebagai penyembuhan dan pembatal sihir serta penghilang gangguan jin dan ain. Untuk pemesanan dan info kunjungi post Mp3 dan CD ruqyah mandiri, Barokallahu fiikum..

Artikel Islam Lanjutan dan Daftar Isi Web Ini

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka adalah baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka adalah atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka” (HR. Muslim)

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Bagikan di media sosial yang anda ikuti dengan klik di tombol dibawah ini dan raih amal sholeh sebanyak banyak nya... InsyaAllah

Menuju akhir kehidupan yang baik
4/ 5
Oleh
Mesin Pencari Athallah

Ketik topik atau pembahasan apa saja yang anda cari di internet menggunakan Athallah Search Engine dibawah ini. Caranya cukup ketikkan topik nya di kotak box dibawah, kemudian tekan enter. InsyaAllah bebas website porno dan spam

Artikel Terbaru